Jumat, 22 Juni 2012


Sinopsis The Moon That Embraces The Sun episode 1

Sinopsis The Moon That Embraces The Sun episode 1 -
"Dahulu, ada dua buah matahari dan bulan di langit. Tapi itu menyebabkan siang hari terasa sangat panas dan malah hari terasa sangat dingin. Semua makhluk jatuh dalam kekacauan dan kesengsaraan. Lalu seorang pahlawan muncul. Ia menggunakan panah untuk menembak satu matahari dan satu bulan. Semenjak itu, dunia menjadi damai."
Itu adalah sebuah cerita yang diceritakan Ibu Suri pada salah seorang pengikut sekaligus keponakannya, Yoon Dae Hyeong. Ibu suri adalah Ibu dari Raja Seong Jo, Raja saat itu dan merupakan Raja fiksi Joseon.
"Yang Mulia sangat menyukai Pangeran Uiseong." ujar Ibu Suri. "Apa yang harus kita lakukan? Apakah kita hanya akan duduk diam dan menunggu pehlawan itu datang?"
"Hamba tidak mengerti maksud Yang Mulia." ujar Dae Hyeong.
"Hanya ada satu matahari." lanjut Ibu Suri. "Dan hanya ada satu tahta. Kau harus menjadi pahlawan itu. Pangeran Uiseong adalah pemimpin fraksi yang kuat. Keberadaannya mengancam tahta Yang Mulia. Jadi kau harus menghabisinya."
Malam itu, sekelompok penyelundup suruhan Dae Hyeong mengendap-endap masuk ke halaman rumah Uiseong. Para penyelundup itu menempelkan jimat dan mengubur sesuatu di tanah. Kelihatannya mereka memiliki maksud tertentu, yakni menfitnah seseorang atas kejahatan yang hendak mereka lakukan.
Ketika seorang penyelundup masuk ke rumah, seorang pria mengarahkan pedang ke lehernya. Pria tersebut tidak lain adalah Pangeran Uiseong, adik dari Raja Seong Jo.
"Siapa yang memerintahkanmu?" tanya Uiseong.
Si penjahat sengaja menjatuhkan senjatanya untuk mengalihkan perhatian Uiseong, kemudian langsung menyerangnya.
Terjadi perkelahian singkat.
Si penyelundup kemudian melemparkan panah beracun ke lengan Uiseong.
Di saat yang sama di tempat lain, seorang peramal terbangun dari tidurnya dengan terkejut.
Shaman sebenarnya adalah dukun/peramal/ahli roh. Namun aku agak tidak suka menyebut dukun. Jadi disini, aku akan memanggil mereka dengan sebutan 'peramal' saja.
"Ada aura pembunuh." ujarnya, hendak bangkit.
Namun temannya, Jang Nok Young, melarang. "Walaupun begitu, kau tidak bisa melakukan apa-apa."
"Aku tetap harus melihat." bantah wanita itu. "Orang itu... orang itu dalam bahaya."
"Ari!" seru temannya cemas.
Ari berlari dengan cemas dan takut. Nok Young berusaha mengejar dan melarangnya pergi, namun Ari tetap berlari dengan cepat.
Mendadak Ari berhenti berlari karena merasakan sesuatu. Ia menatap ke bulan yang mendadak menghilang dibalik awan dan muncul lagi dengan terang.
Di sisi lain, Uiseong sedang bertarung habis-habisan melawan para pembunuh. Namun sayang ia kalah jumlah.
Ketika seorang pembunuh mengangkat pedangnya ke arah Uiseong, mendadak seseorang datang.
"Hentikan!" seru pria itu.
Uiseong mendongak dan melihat Dae Hyeong berdiri di hadapannya.
"Sudah lama kita tidak bertemu, Pangeran Uiseong." kata Dae Hyeong, tersenyum licik.
"Dulu kau sering mengunjungi rumahku." kata Uiseong. "Sebelumnya kau ingin memperalatku sebagai pemimpin untuk memperoleh kekuasaan. Kelihatannya sekarang kau sudah mengubah pikiranmu. Atau kau sudah menemukan orang lain?"
"Benar, aku sudah menemukan orang lain." ujar Dae Hyeong. "Suatu saat nanti, aku akan menjadi tangan kanan Yang Mulia."
"Yang Mulia tidak akan tertipu oleh pengkhianat sepertimu!" seru Uiseong marah. "Kita lihat saja apakah Yang Mulia akan percaya padamu!"
"Tapi sayang sekali kau tidak akan bisa bertemu Yang Mulia lagi." Dae Hyeong berkata seraya tersenyum kejam.
Di tempat lain, seorang pria tewas terbunuh. Ia mati seakan-akan gantung diri. Di atas mejanya, si pembunuh meninggalkan sebuah surat. Pria itu tidak lain adalah sahabat Uiseong.
"Ini adalah perintah ibu suri." ujar Dae Hyeong.
Dae Hyeong membunuh Uiseong.
Di balik dinding pagar, Ari melihat semua kejahatan itu.
Bayangan Ari terpantul di pedang Dae Hyeong.
"Kejar dia!" perintah Dae Hyeong pada anak buahnya.
Ari berlari melewati hutan, berusaha kabur dari kejaran para penyelundup. Namun sayang ia menemui jalan buntu. Di depannya adalah jurang.
Para penyelundup semakin mendekat. Ari semakin terpojok ke pinggir jurang. Tanpa sengaja, kaki Ari terpeleset dan ia jatuh ke jurang.
Para penyelundup memutar untuk turun ke jurang. Seorang penyelundup menemukan pita milik Ari.
"Ini adalah milik peramal di balai samawi." ujar penyelundup, mengamati pita itu. "Jika ia masih hidup, bunuh dia. Jika ia mati, temukan mayatnya!"
Di balai Samawi, Ketua peramal mengetahui kalau Ari menghilang dan menanyakan keberadaannya.
"Dimana Ari?" tanyanya pada Nok Young.
Nok Young menjawab ragu, "Itu..."
Dae Hyeong menyerahkan pita milik Ari pada Ibu Suri.
Dengan mudah, ibu suri bisa menebak bahwa pita itu adalah milik Ari.
Ari memiliki kemampuan luar biasa sebagai peramal dan dicalonkan menjadi pemimpin balai samawi berikutnya.
"Percintaan antara peramal dan keluarga kerajaan..." gumam Ibu Suri, tertawa merendahkan. "Kelihatannya Dewa sedang membantu kita."
"Apa maksud Anda, Yang Mulia?" tanya Dae Hyeong.
"Anak itu... Ari... Dulu adalah pelayan di rumah Pangeran Uiseong." ujar Ibu Suri. "Mereka berdua terlibat percintaan. Aku yakin orang-orang di rumah itu tahu."
"Bukankah itu lebih berbahaya?" tanya Dae Hyeong.
"Kenapa?"
"Seorang gadis rela mati demi cintanya." ujar Dae Hyeong. "Itulah yang disebut cinta oleh para wanita. Dia sudah melihat semua kejadian itu. Bukan hal mustahil jika ia berani mempertaruhkan hidupnya dengan datang ke istana. Jika kita tidak segera menghabisinya..."
"Gadis itu..." potong Ibu Suri. "Berharap bahwa pria yang ia cintai memperoleh tahta. Agar harapannya bisa terpenuhi, ia menggunakan jimat."
"Tapi kita tidak punya bukti." ujar Dae Hyeong.
"Ketua balai samawi adalah orang kepercayaanku." kata Ibu Suri. "Tidak ada masalah, bukan? Segera bertindak!"
Pengawal kerajaan akhirnya mengetahui kalau dua orang anggota kerajaan tewas malam itu.
Pengawal menyerahkan surat teman Uiseong pada Raja Seong Jo.
Dalam surat tersebut dikatakan kalau teman Uiseong mati bunuh diri untuk menebus kejahatannya karena sudah mencoba memberontak. Malam itu, Uiseong dan temannya dinyatakan sebagai pengkhianat.
Raja Seong Jo menunduk sedih.
Tidak lama kemudian, Ketua Balai Samawi masuk ke ruangan bersama dengan Dae Hyeong. Raja Seong Jo meminta penjelasan mengenai jimat yang ditemukannya di rumah Uiseong.
Ketua Balai Samawi melirik sekilas ke arah Dae Seong, kemudian menjawab, "Jimat itu akan menguatkan kekuasaan sang matahari."
"Benarkah?" tanya Raja Seong Jo.
"Hamba tidak berani berkata bohong." jawab Ketua Balai Samawi.
"Lalu siapa yang memiliki jimat ini?" tanya Pengawal.
"Jimat itu milik Ari, seorang peramal dari Balai Samawi." Ketua Balai Samawi menjawab tanpa ragu.
Raja kemudian memerintahkan pengawalnya untuk mencari Ari.
Siang itu, sebuah rombongan kecil melewati hutan.
Pelayan wanita dari rombongan itu berteriak histeris ketika melihat Ari terjatuh di tanah dalam keadaan sekarat.
"Ada apa?" tanya Nyonya dari dalam tandu. "Kenapa kau berteriak?"
Nyonya itu adalah Shin Jung Kyung.
Nyonya Shin keluar dari dalam tandu. Saat itu ia sedang mengandung.
Nyonya Shin terkejut melihat Ari dan langsung menolongnya tanpa berpikir panjang.
Tandu hendak masuk melewati gerbang Ibu Kota, namun mendadak rombongan mereka dihentikan oleh penjaga.
"Kenapa kau menghentikan kami?" tanya pelayan.
"Kami sedang mencari buronan." jawab penjaga.
Pelayan melihat lukisan buronan yang dimaksud. Buronan tersebut tidak lain adalah Ari, wanita yang tadi ditolong oleh majikannya.
Dengan paksa, si penjaga membuka jendela tandu dan melihat Nyonya Shinyang sedang hamil. Diam-diam, Nyonya Shin menyembunyikan Ari dibalik gaunnya.
"Aku baru saja kembali setelah berdoa untuk janinku." ujar Nyonya Shin. "Aku sedang kelelahan. Jika kau mencurigai sesuatu, tolong ikut saja aku ke rumah."
Penjaga diam sejenak. "Maafkan kelancanganku." ujarnya seraya menutup jendela.
Untuk sementara, Ari selamat.
Tandu berjalan pergi. Di tanah, terdapat ceceran darah. Darah itu berasal dari dalam tandu.
"Berhenti!" seru penjaga, menghentikan tandu Nyonya Shin. "Tolong keluar dari tandu."
Jendela dibuka dan si penjaga melihat gaun Nyonya Shin dipenuhi darah. Si nyonya merintih kesakitan.
Pelayan berteriak panik. "Darah! Darah!"
Pelayan memohon pada penjaga untuk melepaskan mereka karena majikannya berada dalam bahaya.
"Bayi ini adalah anggota kedutaan!" seru Pelayan. "Jika terjadi sesuatu, apa kau mau bertanggung jawab?!"
Penjaga akhirnya membiarkan mereka lewat.
Ari berterima kasih pada Nyonya Shin karena telah menolongnya.
"Bukan aku, tapi bayikulah yang menyelamatkanmu." ujar Nyonya Shin ramah.
"Bayimu adalah perempuan yang sangat cantik seperti bulan." ujar Ari.
"Jadi bayi ini perempuan?"
"Benar." jawab Ari.
"Jadi kau adalah seorang peramal." kata Nyonya Shin. "Aku ingin bayiku memperoleh sedikit energi spiritual. Ini benar-benar kebetulan."
"Ya, ini adalah takdirnya untuk menjadi seseorang yang bermartabat." ujar Ari.

Ari memperoleh kilasan-kilasan bayangan mengenai masa depan si bayi. Dimulai dengan pertemuan dengan seorang Putra Mahkota, menjadi Putri Mahkota, dan berakhir dengan tumpukan tanah seperti kuburan.
Ari sadar bahwa nasib bayi itu akan buruk.
"Nyonya, walaupun aku mati, aku akan melindungi putrimu." janji Ari pada Nyonya Shin .
Nyonya Shin tersenyum dan menunduk berterima kasih.
Mereka berpisah.
Tidak lama berjalan, Ari dikepung dan berhasil ditangkap.
Ari disiksa habis-habisan.
Nok Young, menatapnya takut dan kasihan, namun tidak bisa melakukan apa-apa untuk menolong. Ia menatap Ketua Balai Samawi, namun si Ketua membuang muka.
Dae Hyeong menanyakan mengenai jimat yang ditemukan di kediaman Uiseong. Namun Ari bersikeras bahwa ia tidak tahu-menahu mengenai jimat tersebut.
"Ini adalah bukti kerjasamamu dengan para pengkhianat itu!" seru Dae Hyeong. "Kau masih berani menyangkal!"
Mendadak Ari berubah marah.
"Pengkhianat, katamu?" tanya Ari. "Dan itu adalah bukti yang tertinggal? Kau pikir akulah satu-satunya orang yang menyaksikan semua kejadian itu, bukan? Kau pikir semua akan berakhir begitu kau melenyapkan aku, bukan? Kau salah besar! Bulan sedang melihatmu! Darah orang itu bukanlah satu-satunya yang mengenai pedangmu malam itu! Malam itu juga ada cahaya bulan! Tunggu dan lihat saja! Suatu saat nanti, semua kejahatanmu akan terbongkar! Suatu hari nanti, cahaya bulan akan mengakhiri hidupmu yang menyedihkan!"
Setelah disiksa habis-habisan, Ari dilempar ke dalam penjara.
Nok Young mengunjunginya.
Disanalah Ari meminta sahabatnya itu untuk melindunyi bayi Nyonya Shin.
"Walaupun berada dekat dengan matahari akan mendatangkan bencana, namun takdirnya adalah berada disisi matahari dan melindunginya." kata Ari. "Tolong pastikan saja bahwa anak itu selamat. Lindungi dia demi aku."
"Siapa anak yang harus kulindungi?" tanya Nok Young.
Belum sempat Ari menjawab, penjaga penjara sudah menarik Nok Young pergi.

Keesokkan harinya, Ari akan dieksekusi hukuman mati.
Sebelum mati, Ari melihat dua matahari dan satu bulan.
"Kalian bertiga... jaga diri kalian." ujar Ari dalam hati.
Ari tewas.
Disaat yang sama di tempat yang berbeda, seorang bayi perempuan lahir.
Bayi itu diberi nama Heo Yeon Woo.
Beberapa tahun kemudian.
Istana sedang disibukkan oleh persiapan pesta perayaan.
Para pelayan mendadak panik karena banyak buah yang menghilang secara tiba-tiba.
Disisi lain, seorang kasim datang untuk menjemput Putra Mahkota agar datang ke pesta perayaan. Betapa kagetnya kasim melihat kamar Putra Mahkota kosong.
Saat itu, sang Putra Mahkota sepertinya sedang merencanakan kenakalan yang akan dilakukannya. Kelihatannya berniat kabur dari istana.
Tanpa disangka-sangka, Yeon Woo dan ibunya juga akan datang ke pesta perayaan di istana untuk melihat kakak Yeon Woo, Yeom.

Rupanya hari itu akan diadakan penanugerahan untuk juara ujian negara. Para pelajar dari berbagai pelosok datang untuk menyaksikan pemberian penghargaan tersebut, termasuk Heo Yeom dan Kim Je Woon.
Yeom adalah kakak kandung Yeon Woo, sementara Woon (bersama dengan Pangeran Yang Myeong) adalah murid dari ayah Yeon Woo.
Yeom dinobatkan sebagai juara nomor satu dalam bidang akademik sementara Woon dinobatkan menjadi juara nomor satu dalam bidang beladiri.
Raja Seong Jo datang ke tempat diadakan penganugerahan untuk juara ujian negara. Semua orang bersujud memberi hormat padanya.
Mendadak seekor kupu-kupu kuning terbang dan hinggap di bahu Yeon Woo, kemudian terbang lagi.
Hwon, si Putra Mahkota nakal, keluar dari ruangan. Panas mataAdd Imagehari terasa menyengat.
"Kulitku tidak boleh terbakar." ujarnya seraya membuka sebuah payung untuk melindungi kulitnya dari sengatan matahari.
Ibu Yeon Woo menatap putranya dengan bangga. Ia juga sangat senang melihat wajah suaminya yang berseri. Karena keasikan menonton, ia sampai tidak sadar kalau Yeon Woo menghilang.
Yeon Woo berjalan mengikuti kupu-kupu kuning.
Di lain pihak, Hwon menaiki tangga, hendak melompat keluar. Tanpa sengaja ia menoleh dan melihat Yeon Woo.
Hwon terpana.
Kupu-kupu kuning menghantarkan Yeon Woo pada Hwon.
Hwon berusaha terdasar dari lamunannya. Namun ia malah terpeleset dari tangga dan terjatuh menimpa Yeon Woo. Payung merah Hwon melayang dan jatuh tepat di atas mereka.
Payung itu kemudian terbang tertiup angin.

Hwon dan Yeon Woo kaget karena mereka terjatuh bersama dalam posisi yang... hmm... dewasa, mungkin. Setelah sadar dari rasa terkejut, mereka buru-buru bangkit.
"Melihat pakaianmu, sepertinya kau bukan pelayan istana." kata Hwon dengan nada sok berkuasa. "Kenapa kau ada diistana?"
"Kenapa kau memanjat dinding?" Yeon Woo balik bertanya.
"Akulah yang boleh bertanya, jadi cepat jawab!" seru Hwon. "Apa kau tidak tahu kalau melanggar aturan istana adalah kejahatan besar?"
Yeon Woo menatap Hwon dengan kesal.
"Aku kemari untuk menonton kakakku menerima penganugerahan pelajar akademik terbaik." jawab Yeon Woo.
"Kau pikir aku akan percaya?"
"Percaya atau tidak itu terserah padamu." kata Yeon Woo. "Tapi aku tidak bisa tinggal diam melihat seseorang berusaha mencuri sesuatu dari istana. Aku akan memanggil penjaga sekarang."
Yeon Woo beranjak pergi, namun Hwon menarik lengannya.
"Kau bilang aku ini pencuri?" tanya Hwon.
Yeon Woo menunjuk tas yang dijatuhkan Hwon di tanah.
"Aku... aku sedang mencari jalan keluar." ujar Hwon, mencari alasan. "Aku juga datang untuk menyaksikan penganugerahan militer kakakku."
Hwon meraih tasnya, namun malang barang-barang di dalam tasnya terjatuh. Isinya adalah uang dan perhiasan.
Hwon berusaha memberi penjelasan lagi, tapi Yeon Woo malah berteriak-teriak memanggil penjaga.
Hwon menutup mulut Yeon Woo dan menariknya pergi.
Hwon dan Yeon Woo berdebat mulut sejenak mengenai umur. Hwon berhasil menjebak Yeon Woo dan mengetahui kalau umur Yeon Woo adalah 13 tahun. Hwon lebih tua 2 tahun dari Yeon Woo.
Yeon Woo hendak pergi memanggil penjaga, namun lagi-lagi Hwon menariknya.
"Sudah kubilang aku datang untuk menghadiri penganugerahan militer kakakku." kata Hwon berbohong.
"Orang yang mendapat penganugeran militer itu adalah sahabat kakaku." kata Yeon Woo. "Aku tidak pernah mendengar kalau dia punya adik."
"Be... benarkah? Benarkah dia tidak punya adik?" tanya Hwon terbata.
Hwon akhirnya bercerita alasannya memanjat dinding.
"Aku ingin mencari kakakku." ujar Hwon.
Tentu saja Yeon Woo tidak semudah itu percaya.
"Aku dan kakakku memiliki ayah yang sama, namun ibu yang berbeda." kata Hwon bercerita. "Namun ia selalu memperlakukan aku dengan baik. Walaupun ia pandai dalam segi akademik dan militer, tapi ia tidak bisa berpartisipasi dalam ujian negara. Walaupun ia memiliki potensi, ia tidak bisa menjadi pejabat negara. Walaupun ia menghormati dan menyayangi ayah, tapi ia tidak bisa menerima kasih sayang ayah. Walaupun ia menerima cinta dari banyak orang, tapi ia tidak bisa muncul di hadapan banyak orang."
"Kakak hidup seperti itu karena aku." ujar Hwon sedih. "Dia mungkin takut disalahkan oleh ayah, jadi ia pergi dan tidak menemuiku lagi. Oleh karena itu, aku ingin pergi dan mencarinya. Kau mengerti sekarang?"
"Kenapa kau menyalahkan dirimu sendiri?" tanya Yeon Woo.
"Apa?"
"Kau menjadi anak emas atau kakakmu yang tidak diakui, bukanlah sesuatu yang bisa kalian pilih." kata Yeon Woo. "Kenapa kau menyalahkan dirimu sendiri? Jika kakakmu memang benar-benar menyayangimu, ia pasti tidak akan menyalahkanmu. Tapi, bukankah biasanya hal itu diputuskan oleh Yang Mulia Raja?"
Yeon Woo malah asik mengoceh sendiri mengenai aturan-aturan negara yang tidak ia setujui.
Yeon Woo segera menutup mulutnya ketika sadar bahwa ucapan kelewatan.
Hwon mengancam akan melapor pada penjaga. Yeon Woo memohon agar Hwon tidak melakukannya.
Yeon Woo juga tetap tidak percaya kalau Hwon bukan pencuri.
"Apa kau tidak tahu kalau aku adalah..." Hwon ragu sejenak. Ia tidak kuasa menyebut kata itu. Kata 'Putra Mahkota' terlalu berat untuk diucapkan. "Apa kau tidak tahu kalau aku adalah... pejabat Joseon?"
Hwon mengernyit, tahu bahwa kali ini Yeon Woo akan tambah tidak percaya.
Tapi Yeon Woo malah percaya. Ia dan Hwon berjalan bersama kembali ke dalam halaman istana.
Nyonya Shin sangat cemas mencari-cari putrinya. Ia bahkan sampai melapor ke penjaga.
Diam-diam, Hwon berbisik pada penjaga agar tidak mengungkapkan identitasnya pada Yeon Woo.
"Aku sudah mengakui kejahatanku pada penjaga." Hwon berbohong pada Yeon Woo. Ia kemudian berpaling pada penjaga. "Aku mencuri beberapa uang dan perhiasan. Aku akan ikut denganmu."
Yeon Woo hanya diam, memandang kepergian Hwon.
Yeon Woo dan ibunya hendak pulang.
Mendadak, seorang pelayan istana keluar dan menyerahkan sesuatu pada Yeon Woo. Itu adalah sebuah surat dari Hwon. Selain menyerahkan surat itu, ia juga berpesan sesuatu untuk Yeon Woo, "Berhati-hatilah jika berjalan pada malam hari."
Yeon Woo tersenyum. "Jika ia berkata begitu, seharusnya ia memang bukan orang jahat."
Raja Seong Jo memarahi Hwon karena mencoba melarikan diri dari istana.
"Aku hanya ingin menemui Kak Yang Myeong untuk membicarakan sebuah buku." jawab Hwon datar.
"Kalau kau ingin menanyakan masalah buku, tanyakan saja pada gurumu!" bentak Raja.
"Maaf, aku tidak bisa belajar pada mereka." bantah Hwon. "Aku hanya bisa belajar dari Kakak."
"Jadi karena itu kau ingin melarikan diri dari istana?!" bentak Raja marah. Ia lalu memerintahkan para pengawalnya untuk menjaga Hwon lebih ketat.
Ibu Suri dan Dae Hyeong membahas mengenai calon mentor yang akan mendidik Hwon.
"Aku sangat khawatir." kata Ibu Suri. "Ini adalah posisi yang sangat penting agar penerusku bisa dididik."
"Aku akan menyiapkan segalanya." ujar Dae Hyeong.
"Putra Mahkota akan menjadi Raja masa depan." ujar Ibu Suri. "Demi masa depannya sendiri, masih banyak hal yang harus kita lakukan."
Ratu So Hye memohon pada Raja agar mengizinkan Yang Myeong keluar masuk istana dengan bebas.
"Pangeran Yang Myeng belum menikah, namun Yang Mulia sudah menyuruhnya keluar istana." kata Ratu. "Jika Pangeran Yang Myeong tidak kembali, aku takut Putra Mahkota akan..."
Raja memotong perkataan Ratu dengan marah. Raja menolak mentah-mentah usulan Ratu.
Ratu keluar dan mengatakan pada Ibu Yang Myeong bahwa Raja menolak permintaannya.
Setelah melakukan perjalanan, Yang Myeong kembali ke ibu kota. Ia pergi ke pasar menjual burung tangkapannya.
"Aku ingin membelikan hadiah untuk teman-temanku dengan uang itu." kata Yang Myeong pada seorang pria.
Tidak jauh dari sana, Yang Myeong melihat sebuah antrian panjang. Orang-orang itu mengantri untuk mendapatkan batu ajaib yang dipercaya bisa menyembuhkan segala macam penyakit.
Si penjual mengatakan bahwa batu itu adalah batu yang diberi kekuatan spiritual oleh seorang peramal berusia 8 tahun dan memiliki kekuatan spiritual seperti Jang Nok Yeong.
Yang Myeong tersenyum. "Kebetulan sekali aku sedang pusing memikirkan hadiah apa yang bisa kuberikan untuk teman-temanku."
Dengan bersemangat, Yang Myeong berebut batu itu bersama orang-orang lain.
Dari kejauhan, Jang Nok Yeong mengamati keramaian itu. Rupanya si penjual berusaha menipu orang-orang dengan mengatasnamakan peramal.
Add Image
Disanalah Nok Yeong melihat Yang Myeong untuk pertama kalinya.
Ia teringat perkataan Ari. "Joseon memiliki dua matahari."
Yang Myeong mengantri untuk mendapatkan batu dari peramal cilik.
Yang Myeong melihat bibir si peramal. Bibirnya kering dan ia kelihatan sengsara. Ia sadar kalau anak itu sudah menjadi korban eksploitasi anak-anak dan diperalat untuk menipu.
"Aku lapar." bisik anak itu ada si pria. Namun pria itu malah mencobit peramal cilik.
Yang Myeong meledak marah. "Tidakkah kau mendengar kalau ia kelaparan?!" serunya. Ia juga melihat kalau seluruh tubuh anak itu dipenuhi luka memar akibat siksaan.
Penipuan itu berhasil dibongkar oleh Yang Myeong. Para pelanggan mengamuk.
Di antara kericuhan itu, Yang Myeong membopong dan hendak membawa si anak ke tabib.
Di tengah jalan menuju tabib, Yang Myeong dikepung oleh sekelompok orang.
Seorang pria merebut si anak dari Yang Myeong dengan paksa, namun Nok Yeong menghadang jalannya. Nok Yeong membawa banyak penjaga bersamanya.
Para pria hendak menghajar Yang Myeong.
"Jika kau berani macam-macam padaku, kalian akan membayar akibatnya!" ancam Yang Myeong.
Para pria itu tidak peduli dan terus memukuli Yang Myeong.
"Guru beladiriku adalah juara ujian negara." kata Yang Myeong.
"Kalau begitu, ayahku adalah Raja!" seru pria itu seraya memukul Yang Myeong lagi.
Yang Myeong jatuh terjerembab ke tanah tanpa perlawanan.
Ia menarik napas dalam dan bangkit dengan cepat. Sudah habis kesabarannya.
"Aku kenal siapa Raja." katanya. "Dan ia tidak pernah mengatakan kalau ia memiliki anak sepertimu!"
Yang Myeong menghajar para pria itu dan berhasil mengalahkan mereka dengan mudah.
Yang Myeong menatap istana dari kejauhan.
"Yang Mulia, pengabdi setiamu sudah kembali." ujarnya dalam hati. "Maafkan aku karena belum sempat memberi hormat. Putra Mahkota, apa saja yang kau lakukan selama ini?"
Kasim, para penjaga dan para dayang mengawal Hwon dengan ketat kemanapun Hwon pergi.
"Aku tidak akan kabur." kata Hwon kesal pada mereka. "Berikan aku ketenangan."
Mendadak, kelopak-kelopak bunga berguguran. Hwon teringat pada pertemuannya dengan Yeon Woo.
Hwon tersenyum. "Jika kau tahu kalau aku Putra Mahkota, kau pasti akan lebih mengomel lagi." gumamnya. "Mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi."
Hwon terkejut melihat payung merahnya melayang-layang di udara.
Di sisi lain, Yeon Woo membaca surat dari Hwon.
Hwon menulis teka-teki yang sulit ditebak oleh Hwon. Ia kemudian bertanya pada Seol, pelayannya. Namun tentu saja Seol tidak mengerti.
Yang Myeong berjalan perlahan, kemudian memanjat dinding. Ia tersenyum seraya menatap sebuah rumah.
Dari dalam rumah itu, Yeon Woo berjalan keluar.
Yang Myeong terkejut.
Yeon Woo masih berkutat memikirkan teka-teki dari Hwon.
Yang Myeong memperhatikannya dari jauh.
Yeon Woo berpikir dan terus berpikir. Akhirnya ia berhasil mengetahui bahwa jawaban teka-teki dari Hwon adalah matahari. Yeon Woo tahu dengan pasti apa arti matahari. Matahari mengisyaratkan Raja/Putra Mahkota.
Yeon Woo terduduk di tanah dengan shock.
Hwon tersenyum melihat payungnya. "Apakah ini artinya... aku bisa bertemu denganmu lagi?" pikirnya dalam hati.
"Putra Mahkota, apa kau tahu?" pikir Yeon Woo dalam hati. "Bagiku, ini adalah sebuah keberuntungan."
Yang Myeong menatap Yeon Woo. "Aku benar-benar senang bisa melihatmu lagi, Heo Yeon Woo." katanya dalam hati.
Bersambung.....
 
 
Sinopsis The Moon That Embraces The Sun episode 2


Sinopsis The Moon That Embraces The Sun episode 2
Hwon terkejut melihat payungnya.
"Mul!" seru Kasim takut. "Itu Mul Goe!"
Mul Goe adalah benda yang dirasuki oleh roh.
Hwon mendekati payung itu dan mengambilnya.
"Mungkinkah... kita bisa bertemu lagi?" Hwon berharap dalam hati.
Di saat yang sama, Yeon Woo sedang terduduk seorang diri, masih shock.
Mendadak ia mendengar sesuatu. Ia menoleh ke sekelilingnya, ketakutan.
"Mungkinkah seseorang mengirim pembunuh kemari?" gumamnya panik.
Di kejauhan, ia melihat sebuah batu bersama selembar surat tergeletak. Ia mendekati dan meraih batu tersebut.
"Batu Pemecah Masalah." perlahan Yeon Woo membaca tulisan yang tertera pada batu itu.
Yeon Woo kemudian meraih selembar surat disamping batu tersebut.
"Adakah hal-hal yang mengganggu pikiranmu dan membuatmu tidak bisa tidur?" Yeon Woo membaca surat itu. "Cobalah bicara pada batu ini dan lihat apa yang terjadi. Batu ini adalah baru pemecah masalah. Batu ini bisa menghilangkan kecemasan dan semua masalahmu, jadi seharusnya kau sudah bisa tidur sekarang. Ini adalah hadiah dari perjalananku."
"Dia akan pergi lagi?" gumam Yeon Woo, terlihat kesal. Sepertinya ia tahu siapa orang yang meletakkan batu dan surat tersebut.
Di sisi lain, Yeon dan Woon sedang berlatih bela diri. Diam-diam, Seol mengamati mereka dengan cemas.
Yeon dan Woon mengambil ancang-ancang.
Sekilas, Woon melirik ke arah Seol dan sepertinya menyadari keberadaannya.
Yeom dengan cepat mempergunakan kesempatan itu untuk menyerang Woon.
Woon membalas serangan Yeom dengan cekatan dan akhirnya bisa memenangkan pertandingan.
Seol mengeluh. Kenapa Yeom kalah?
Seusai menjatuhkan Yeom, Woon menoleh ke arah Seol. Seol buru-buru menutupi wajahnya dan melarikan diri.
Yeom bangkit. "Kemampuanmu sangat luar biasa." pujinya pada Woon. "Dibandingkan denganmu, kemampuan pedangku sama sekali tidak ada apa-apanya. Aku sudah berlatih beberapa tahun tapi tetap tidak ada peningkatan."
"Anda baik-baik saja, Tuan Muda?" tanya Woon, dengan ketenangan yang biasanya.
"Bisakah kau tidak memanggilku 'Tuan Muda'?" pinta Yeom. "Ngomong-ngomong, kenapa Pangeran Yang Myeong tidak kemari? Aku sudah merencanakan pertemuan ini, tapi dia tetap saja tidak datang. Jika Pangeran Yang Myeong masih disini, hari-hari kita pasti tidak akan pernah tenang."
Yeom terus bicara, tidak menyadari kedatangan Yang Myeong.
Woon melihat Yang Myeong, namun Yang Myeong menyuruhnya diam.
"Sekarang hanya tinggal kita berdua dan aku merasa sedikit kesepian." ujar Yeom, terus mengoceh.
"Jika aku tahu kau akan merindukan aku seperti ini, aku tidak akan pernah pergi." ujar Yang Myeong.
Yeom menoleh dengan kaget. "Pangeran Yang Myeong!" serunya.
Yang Myeong membuka kedua lengannya, hendak memeluk Yeom. "Heo Yeom-ku tersayang!" serunya seraya memeluk Yeom. "Selamat atas kelulusanmu di ujian negara!"
Setelah puas memeluk Yeom, Yang Myeong berpaling pada Woon, yang sejak tadi hanya melihat mereka berdua dalam diam.
"Kim Je Woon!" seru Yang Myeong ceria.
Yang Myeong meloncat ingin memeluk Woon, namun dengan gesit (dan tetap tenang), Woon menghindar ke kanan.
Yeom tersenyum tertahan.
"Ehem." Yeom berdeham sambil cemberut. "Kau sangat tidak menarik."
Yeom berusaha mengalihkan perhatian. "Apakah perjalananmu menyenangkan?" tanyanya.
"Lebih dari menyenangkan." jawab Yang Myeong ceria seraya merangkul ketiga sahabatnya.
Yang Myeong, Woon dan Yeom minum bersama.
"Karena kau tidak juga muncul, maka kami menunggumu." ujar Yeom pada Yang Myeong.
"Aku pergi dulu untuk menemui seseorang yang penting, jadi aku sedikit terlambat." jawab Yang Myeong. "Maafkan aku." Yang Myeong menarik tangan Yeom untuk meminta maaf. "Aku punya seseorang yang lebih kucintai dibandingkan kau."
Yeom melongo seraya menarik tangannya. "Dalam waktu singkat, kau sudah memiliki seseorang di hatimu?" tanyanya. "Kenapa aku tidak pernah mendengarmu menyinggung hal itu? Kau tidak memanjat dinding lagi kan?"
"Aku adalah seorang pangeran, mana mungkin aku memanjat dinding untuk mengintip wanita?" ujar Yang Myeong menjawab kecurigaan Yeom. "Diluar fakta bahwa dia itu adikmu, mana mungkin aku melakukannya?"
Yeom terlihat kesal.
"Walaupun adikku masih kecil, namun tetap saja pria dan wanita itu berbeda." katanya. "Bukankah terakhir kali kau melihatnya, kau sangat kesal? Kenapa kau masih saja menemuinya?"
"Aku tahu, aku tahu." potong Yang Myeong. "Aku mengerti dengan jelas, jadi jangan bahas itu lagi. Kau cerewet sekali."
Melihat pertengkaran Yang Myeong dan Yeom membuat Woon tersenyum tipis.
"Kau lihat itu?!" seru Yang Myeong pada Yeom. "Dia tersenyum! Balok es ini tahu juga cara tersenyum! Ini sebuah fenomena unik yang hanya bisa kau lihat sekali seumur hidup!"
Yeom tetap ngambek dan tidak terpengaruh.
"Jika kau berani memanjat dinding dan mengintip adikku lagi, aku tidak akan tinggal diam." ujarnya sambil cemberut.
"Aku mengerti!" seru Yang Myeong.
"Aku punya hadiah untuk kalian berdua." ujar Yang Myeong.
Ia mengeluarkan dua buah batu dan meletakkannya di atas meja di hadapan Woon dan Yeom.
"Ini adalah jimat yang akan membawa keberuntungan untuk kalian di masa depan." katanya. "Batu-batu ini dinamakan Batu Mistis. Apa kalian sudah pernah dengar?"
Yeom dan Woon mengamati batu itu.
"Suatu saat nanti, kalian berdua akan menjadi bawahan Putra Mahkota." ujar Yang Myeong dengan tersenyum, namun ekspresinya sedih.
Mendengar perkataan Yang Myeong, Yeom dan Woon langsung meletakkan kembali batu tersebut ke meja.
"Kenapa dengan ekspresi kalian?" tanya Yang Myeong, berusaha kembali terlihat ceria. "Jika kalian sudah menempati posisi kalian, kita tidak akan bisa berkumpul dan minum seperti ini lagi."
Yang Myeong, Yeom dan Woon bersulang.
Diam-diam, Yang Myeong tersenyum tipis, namun terlihat pahit.
Raja dan para pejabat mengadakan pertemuan.
Para pejabat menyerahkan perkamen rekomendasi kandidat yang akan bertanggung jawab atas pendidikan Putra Mahkota.
Hwon bertanya-tanya siapa orang yang akan dipilih untuk menjadi mentornya.
"Ayo kita lihat berapa lama guru ini akan bertahan." tantang Hwon.
Para dayang menunduk memberi hormat ketika Hwon berjalan melewati mereka menuju ruang belajar.
"Kira-kira sampai kapan guru baru itu bertahan?" gumam salah satu dari para dayang.
"Aku bertaruh dia tidak akan tahan lebih dari satu bulan." jawab kawannya.
Mendadak, mereka terpesona melihat seorang pemuda lewat. Pemuda itu terlihat sangat menawan (cantik), sampai-sampai seorang dayang pingsan karena tidak kuasa menghadapi pesona pemuda tersebut.
Pemuda itu tidak lain adalah Yeom.
Hwon menunggu mentor barunya datang dengan wajah sebal.
"Yang Mulia, guru Anda sudah datang." ujar Kasim dari luar ruang belajar.
Pintu terbuka.
"Saya diperintahkan untuk memberi pengajaran pada Anda." ujar Mentor baru. "Nama saya, Heo Yeom."
Yeom bersujud memberi hormat pada Hwon.
Dengan acuh, Hwon membolak-balik buku tanpa menatap Yeom.
Ketika Yeom bangkit setelah selesai memberi hormat, Hwon melihatnya sekilas.
Hwon langsung menganga, terperanjat menatap wajah mentor barunya yang luar biasa... hmmm, luar biasa apa yah? Mempesona, mungkin.
Mengetahui kakaknya akan menjadi mentor Hwon membuat Yeon Woo menjadi sedikit cemas. Ketika merajut, tanpa sengaja ia mengenai jarinya dengan jarum.
Yeon Woo berpikir bahwa Hwon-lah yang memilih kakaknya menjadi mentor karena Hwon tahu kalau Yeom adalah kakaknya.
Setelah lepas dari rasa terkejutnya, Hwon bertanya pada Yeom berapa umurnya.
"Jadi kau baru berumur 17 tahun?" tanya Hwon, tertawa merendahkan. "Dengan umur yang begitu muda, kau pasti memiliki orang belakang yang punya kekuasaan tinggi."
Yeom terlihat marah, namun tetap diam.
Di sisi lain, ibu suri begitu marah mengetahui kalau Yeom-lah orang yang menjadi mentor Hwon.
"Tidak tahukah kau bahwa posisi itu sangat penting?!" serunya pada Yun Dae Hyeong.
Dae Hyeong meyakinkan Ibu Suri kalau tidak lama lagi Yeom pasti akan mundur dengan sukarela karena tidak tahan dengan sikap Hwon.
Namun Ibu Suri tidak yakin. Ia merasa Raja sedang merencanakan sesuatu dengan menunjuk Yeom sebagai mentor Hwon.
"Ia adalah putra dari pejabat kepercayaan Raja!" seru Ibu Suri. "Kau masih tidak bisa melihat maksud Yang Mulia? Yang Mulia ingin memperoleh kekuatan yang lebih besar lagi!"
Ibu Suri takut kalau Yeom bisa meluluhkan Hwon.
Perkiraan Ibu Suri memang tidak salah. Raja Seong Jo memang merencanakan sesuatu.
Hwon ngomel-ngomel karena ayahnya mengirimkan guru yang umurnya masih sangat muda dan tidak terpaut jauh darinya.
Kasim memperoleh informasi kalau Yeom adalah juara akademik ujian negara.
"Jika kau ingin ketampanan, kau akan mendapat ketampanan darinya." kata Kasim pada Hwon mengenai Yeom. "Jika kau ingin pengetahuan, kau akan mendapat pengetahuan darinya. Jika kau ingin kebaikan, kau akan mendapat kebaikan hatinya. Ia sempurna tak bercela. Ia adalah idola di sekolah! Bahkan orang yang mulanya membencinya, akan dengan senang hati menjadi temannya jika sudah bertemu dengan Yeom."
Hwon mendengarkan dengan ekspresi kesal. Kasim terus-menerus memuji Yeom dengan sangat bersemangat.
"Tutup mulutmu!" teriak Hwon. "Aku tidak mau melihatmu. Cepat pergi."
Kasim menunduk dan berjalan pergi.
Yeon Woo masuk ke kamar ketika kakaknya sedang belajar.
"Kakak, wajahmu penuh kekhawatiran." ujar Yeon Woo. "Adakah sesuatu yang terjadi di istana? Apa Yang Mulia menyebabkan masalah untukmu?"
"Bukan begitu." jawab Yeom. "Yang Mulia memberiku tantangan."
"Tantangan apa?" tanya Yeon Woo penasaran. "Mungkin aku bisa membantu."
"Kelihatannya Putra Mahkota salah paham padaku." kata Yeom. "Aku tidak tahu bagaimana caranya membuka hati Putra Mahkota yang tertutup rapat. Bukan hanya itu, ia juga tidak bisa menerima orang semuda aku menjadi gurunya."
"Itu bukan karena kakak!" seru Yeon Woo. "Itu karena..."
"Mungkin itu karena aku." gumam Yeon Woo dalam hati, menyimpulkan sendiri.
Melihat Yeon Woo, Yeom menjadi cemas. "Ini salahku hingga kau menjadi khawatir." katanya.
"Kakak ingin memperoleh hati Putra Mahkota, bukan?" tanya Yeon Woo.
"Apa kau punya ide?"
Keesokkan harinya, Yeom mengajari Hwon belajar.
Hwon kelihatan malas-malasan dan tidak peduli. Ia hanya membolak-balikkan bukunya sepanjang jam pelajaran tanpa mengatakan apapun.
Yeom juga hanya duduk diam selama beberapa waktu, kemudian berkata, "Pelajaran kita berakhir dsini."
Hwon menarik napas panjang. "Kau sangat memalukan." katanya. "Kau tidak mengajariku apa-apa, tapi menerima gaji."
"Itu karena aku merasa Yang Mulia belum siap menerima pelajaran yang akan kuberikan." jawab Yeom. "Jadi, sebegai ganti pelajaran hari ini, bolehkan aku menghadiahkan Anda sebuah teka-teki?"
"Teka-teki?" tanya Hwon.
"Benar." jawab Yeom. "Jika Anda berhasil menebak teka-teki ini, aku akan memenuhi permintaan Yang Mulia dan mundur sebagai mentor Anda. Tapi jika Yang Mulia tidak bisa menebak jawabannya, Yang Mulia harus belajar dan menunjukkan sikap dengan baik."
Hwon setuju dan Yeom mengungkapkan teka-tekinya.
"Apa yang bisa membuat dunia terang dalam satu saat dan gelap di saat yang lain?"
"Itu teka-teki yang terlalu sederhana." protes Hwon.
"Kurasa sama sekali tidak sederhana." ujar Yeom. "Kuharap Yang Mulia akan memberi jawabannya saat pembelajaran kita selanjutnya."
"Dan saat itu juga aku tidak akan pernah mau melihat wajahmu lagi." ujar Hwon tajam.
Ketika sedang berjalan menuju Kediaman Ibu Suri, Putri Min Hwa, adik Hwon, melihat para kasim membawa banyak buku ke kediaman Hwon. Karena penasaran, ia langsung berlari ke sana.
"Kakak!" seru Min Hwa, melihat kakakya membaca banyak sekali buku di ruang belajarnya. "Jadi kau mulai tertarik untuk belajar? Bagaimana kau bisa menyelesaikan buku sebanyak ini?"
"Aku tidak punya waktu untuk bermain denganmu, Min Hwa." ujar Hwon kesal.
"Kenapa denganmu, Kakak?" tanya Min Hwa. Karena Hwon malas menjelaskan, akhirnya Min Hwa bertanya pada Kasim.
Kasim menjawab kalau saat ini Hwon sedang berusaha memecahkan sebuah teka-teki.
"Teka-teki apa? Katakan padaku!" ujar Min Hwa antusias.
Kasim berbisik di telinga Min Hwa, "Apa yang bisa membuat dunia terang dalam satu saat dan gelap di saat yang lain?"
"Mungkah kelopak mata?" tanya Min Hwa. "Jika kau memejamkan mata seperti ini, dunia akan gelap dan jika kau membuka mata seperti ini, dunia akan menjadi terang."
Hwon menoleh ke Min Hwa dengan pandangan kesal. "Ck ck ck... Cara berpikirmu terlalu sederhana." katanya.
"Jawabannya adalah politik monarki." kata Hwon pada Yeom saat mereka bertemu lagi di ruang belajar. Yeom menjelaskan panjang lebar mengenai politik monarki.
Secara kebetulan, saat itu Raja sedang berada di luar. Ia mendengar suara Hwon yang sedang menjelaskan.
"Maafkan aku, tapi jawaban Anda tidak sama denganku." ujar Yeom.
"Jawabanku salah?" tanya Hwon.
"Benar."
"Lalu, apa jawaban yang benar?"
"Jawabannya adalah... kelopak mata." jawab Yeom.
Semua orang yang mendengarkan percakapan mereka dari luar terkejut. Raja tersenyum tipis.
"Apa kau mempermainkan aku?!" seru Hwon kesal.
"Apa jika yang mulia tidak menerima jawabanku, maka itu menjadi lelucon?" Yeom bertanya balik.
"Apa?"
"Apa karena jawaban itu tidak ada dibuku, maka Anda menganggap itu rendahan?" tanya Yeom. "Dari pandangan anak kecil, semua hal di dunia ini bisa menjadi pertanyaan dan semua hal di dunia bisa menjadi jawaban. Dalam proses pembelajaran, ada dua hal penting yang harus diingat. Pertama, kesombonganmu atas pengetahuan dan yang kedua adalah prasangkamu dalam menetapkan sesuatu. Kedua hal ini akan menutup mata dan pikiran Yang Mulia dengan kegelapan."
Hwon kelihatan marah dan memanggi kasimnya masuk.
Namun betapa kaget kasim dan Yeom ketika Hwon memerintahkan kasimnya untuk menyiapkan hidangan untuk gurunya.
"Hari ini aku akan menghormatimu sebagai mentor yang hebat." ujar Hwon seraya tersenyum dan memberi hormat pada Yeom.
Di luar, Raja tersenyum. "Kelihatannya Putra Mahkota sudah menemukan guru yang cocok." katanya.
Di kamarnya, Min Hwa tertawa terbahak-bahak.
"Jadi kakakku si Putra Mahkota yang hebat akhirnya mengibarkan bendera putih pada mentor itu?" tanyanya pada dayang. "Kelihatannya mentor itu adalah orang yang sangat menarik. Aku ingin melihatnya dan mengatakan kalau aku menebak jawaban yang benar."
Min Hwa berlari menuju ruang belajar Hwon untuk melihat Yeom.
Ia terpesona pada Yeom.
Ketika sekilas Yeom menoleh ke arahnya, Min Hwa langsung menutupi wajahnya, malu.
Yeom dan Hwon berbincang.
Yeom bercerita bahwa adiknya-lah yang telah memberinya keberanian menantang Hwon.
"Putra Mahkota adalah orang yang bijaksana." ujar Yeon Woo. "Walaupun sekarang ia salah paham pada kakak, tapi suatu saat nanti ia akan mengerti kesetiaan kakak."
"Jadi, orang yang bertanggung jawab atas hari ini bukan Guru Heo, melainkan adik Guru Heo." kata Hwon.
Yeom kelihatan cemas.
"Kita harus menikmati manisan ini bersama adikmu." tambah Hwon. "Kasim, bungkuskan beberapa manisan. Aku ingin memberikan hadiah untuk guruku yang tersembunyi dan bukan untuk Guru Heo."
Yeom tersenyum.
Setelah selesai makan dan mengobrol dengan Yeom, Hwon berjalan kembali ke ruangannya bersama kasim.
Disana, Hwon akhirnya tahu kalau Yeom adalah juara akademik ujian negara dan teringat pada Yeon Woo. Saat Hwon pertama kali bertemu dengan Yeon Woo, Yeon Woo bercerita bahwa ia datang ke istana untuk menyaksikan penaugerahan untuk kakaknya.
Hwon sangat terkejut.
"Kenapa kau baru mengatakan ini padaku sekarang?!" seru Hwon kesal pada kasimnya.
Hwon tersenyum senang.
Yeom menyerahkan hadiah dari Hwon pada Yeon Woo.
Yeon Woo terkejut menerima hadiah tersebut. Ia keluar dan berdiri di halaman.
Bunga-bunga berguguran dan bayangan Hwon muncul di sampingnya.
"Apa kau sudah berhasil menebak teka-teki yang kuberikan?" tanya Hwon.
"Apa kau benar-benar Putra Mahkota?" tanya Yeon Woo.
"Menurutmu?"
"Kuharap kau bukan." ujar Yeon Woo. Ia juga menanyakan apa maksud Hwon memberikan hadiah tersebut padanya. Namun Hwon tidak menjawab dan hanya tersenyum.
Bayangan Hwon menghilang dari sisi Yeon Woo.
Dae Hyeong dan komplotannya membahas mengenai Yeom. Raja pasti merencanakan sesuatu dengan mengirim Yeom menjadi mentor Hwon.
Mereka harus segera menangani masalah ini.
Dae Hyeong pulang dalam keadaan mabuk. Istri dan putrinya, Yoon Bo Kyung, menyambutnya.
"Apa kau ingin melihat istana?" tanya Dae Hyeong pada putrinya. "Jika kau mau, aku bisa membuatmu hidup disana."
Bo Kyung terlihat bingung.
Dae Hyeong rupanya punya rencana untuk menjadikan Bo Kyung seorang Ratu.
Seol mengantarkan Yeon Woo ke kota untuk membeli kertas. Yeon Woo ingin menulis surat pengakuan kesalahan pada Hwon.
"Kenapa kau tidak menemuinya saja dan memohon maaf?" tanya Seol.
"Dia bukan orang yang mudah ditemui." kata Yeon Woo.
"Memangnya siapa dia? Orang kerajaan atau Putra Mahkota?" tanya Seol polos.
Yeon Woo hanya diam. Ia lebih mengkhawatirkan kakaknya dibandingkan dirinya sendiri. Ia takut Hwon melakukan sesuatu pada Yeom.
Seol meminta izin Yeon Woo untuk melihat toko pandai besi.
Yeon Woo sendirian di toko kertas. Mendadak Yang Myeong muncul dibelakangnya.
Seol berlari dengan sangat bersemangat menuju toko pandai besi.
Di tengah jalan, tanpa sengaja ia menabrak Bo Kyung hingga keduanya terjerembab ke tanah.
Pelayan Bo Kyung membantu Bo Kyung berdiri.
Disana banyak sekali orang yang melihat. Walaupun terlihat marah, namun Bo Kyung pura-pura tersenyum ramah.
"Tidak apa-apa." ujarnya pada pelayannya. "Anak ini tidak menabrakku dengan sengaja."
Seol cemas.
"Kelihatannya kau sangat terburu-buru." ujar Bo Kyung pada Seol. "Aku baik-baik saja. Pergilah."
Seol tersenyum lega. "Terima kasih nona." katanya seraya berlari pergi.
Bo Kyung langsung cemberut lagi.
Bo Kyung dan pelayannya pergi ke toko perhiasan untuk mengambil pesanan mereka.
Saat itu pelayan Bo Kyung menyadari ada sesuatu yang hilang dan langsung menuduh Seol yang mencuri.
"Nona, tunggu sebentar disini." kata pelayan Bo Kyung.
Setelah pelayannya pergi, Bo Kyung melihat dompet pelayannya terjatuh.
Bo Kyung tersenyum jahat.
Seol punya ketertarikan besar pada bidang pandai besi. Di masa depan, ia tahu dengan baik mengenai macam-macam dan jenis-jenis pedang.
Ketika sedang asik melihat para pandai besi bekerja, pelayan Bo Kyung menarik dan menampar Seol hingga jatuh. Ia menuduh Seol mencuri dompetnya.
"Hentikan!" Bo Kyung datang dan menengahi pertengkaran. "Apa yang kalian lakukan? Banyak orang yang melihat!"
"Percayalah, Nona." Seol berlutut pada Bo Kyung. "Aku sungguh tidak mencuri."
Bo Kyung tersenyum. "Jadi, maksudmu kau tidak bersalah?"
"Benar!" jawab Seol.
"Kalau begitu, buktikan bahwa kau bukan pencuri." tantang Bo Kyung.
Seol diam.
Yang Myeong mengganggu Yeon Woo ketika sedang memilih kertas.
"Aku adalah kakak Putra Mahkota." kata Yang Myeong. "Aku akan membantumu memilih."
Yeon Woo kesal dan pergi meninggalkan toko.
Mendadak hujan turun dengan deras.
Yeon Woo berlari untuk mencari tempat meneduh.
Mendadak Yang Myeong muncul dan menutupi kepala Yeon Woo dengan jubahnya.
Yeon Woo terkejut.
Yang Myeong mengajak Yeon Woo meneduh di sebuah rumah. Di dalam rumah itu banyak sekali tanaman. Rupanya itu adalah rumah kaca.
Melihat Yang Myeong membuat Yeon Woo teringat cerita Hwon mengenai kakaknya.
Yang Myeong menunjukkan sebuah pot berisi bunga krisan.
"Yang Mulia suka bunga ini." katanya pada Yeon Woo. "Bunga ini juga bisa melambangkan pengakuan kesalahan."
"Orang seperti apa Yang Mulia itu?" tanya Yeon Woo hati-hati. "Aku ingin tahu."
"Bagaimana ya mengatakannya? Dia selalu memikirkan rakyat dan negaranya." jawab Yang Myeong. "Dia orang yang sangat ketat, namun juga punya sisi halus."
Yang Myeong teringat ketika Raja selalu memarahinya, sementara pada Hwon selalu bersikap lembut.

"Kau sudah lama berkelana." ujar Yeon Woo. "Tidakkah kau ingin kembali keistana. orang-orang mungkin merindukanmu."
"Siapa yang merindukan aku?" tanya Yang Myeong.
"Putra Mahkota..." Yeon Woo berkata spontan dan langsung terdiam.
"Mereka terlalu sibuk dan tidak akan punya waktu untuk bertemu denganku." tolak Yang Myeong.
Di lain sisi, Seol dipukuli habis-habisan di halaman rumah keluarga Yoon.
Di dalam rumah, Bo Kyung dengan tenang membaca buku.
"Salah siapa kau tidak menggunakan matamu ketika berjalan?" gumam Bo Kyung. "Itu kesalahan yang sangat fatal."
Yeon Woo bergegas datang ketika mengetahui kalau Seol dituduh mencuri.
"Kenapa kalian memukulinya seperti ini?" protes Yeon Woo.
Bo Kyung keluar dari rumah karena mendengar suara Yeon Woo.
Yeon Woo memperkenalkan diri sebagai putri Kepala Pejabat penting istana dan menjelaskan kalau pasti ada kesalahpahaman.
Yeon Woo berpura-pura kalau sebelumnya ia tidak pernah mengizinkan anak buahnya memukuli Seol.
Add Image
"Mendidik orang rendahan memang tidak mudah." kata Bo Kyung pada Yeon Woo. "Sebelum ia melakukan kejahatan yang lebih besar, lebih baik kau segera menjualnya."
"Aku akan mengembalikan uangmu yang hilang." ujar Yeon Woo tenang.
"Tidak perlu." tolak Bo Kyung. "Karena kami sudah menyakiti pelayanmu, kuanggap kita impas."
Add Image
"Nona, anak ini bukanlah sesuatu yang bisa dibeli dan dijual." ujar Yeon Woo. "Dia adalah teman dan keluargaku. Bagiku, sama sekali tidak ada perbedaan antara bangsawan dan rakyat jelata. Yang berbeda adalah sifat dari keduanya. Aku tidak tahu berapa jumlah uangmu yang hilang, tapi apakah itu setara dengan rasa sakit dihatinya?"
"Apa katamu?"
Yeon Woo melanjutkan. "Kuanggap kau sudah mengampuninya, jadi aku akan membawanya pulang."
Yeon Woo kemudian memapah Seol pulang.
Yeom membawakan hadiah dari Yeon Woo sebagai ganti pemberian Hwon. Yeon Woo memberikan sebuah pot berisi tanah tanpa tanaman.
Bukannya belajar, Hwon malah menanyakan pada Yeom mengenai Yeon Woo.
Yeom bercerita kalau sejak kecil, Yeon Woo suka sekali membaca.
"Dia sangat berbeda dengan adikku, Min Hwa." Hwon ikut bercerita panjang lebar mengenai adiknya juga. "Dia juga sangat cengeng."
Mendadak pintu terbuka dan Min Hwa masuk ke dalam ruangan sambil menangis.
"Aku membencimu, Kak!" tangis Min Hwa.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Hwon kaget. "Kenapa kau menangis?"
"Kau mengatakan hal buruk mengenai aku!" rengek Min Hwa. "Lebih lagi, kau mengatakannya di depan orang ini." Ia menunjuk Yeom.
Min Hwa mendekati Yeom dan menyentuh wajahnya.
"Semua yang dikatakan Putra Mahkota bohong." tangis Min Hwa. "Aku tidak cengeng. Aku wanita yang baik."
Yeom bingung. "Aku mengerti, aku mengerti." katanya menenangkan. "Jangan terlalu marah. Jika kau menangis terus, pipi cantikmu akan kotor."
Min Hwa langsung berhenti menangis. "Aku... cantik?" tanyanya, tersenyum. "Apa aku benar-benar cantik?"
Yeom bingung.
Hwon hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Min Hwa.
Add Image
Hwon membuka surat dari Yeon Woo.
Yeon Woo menghias kertas dengan sangat cantik sampai-sampai membuat Hwon terpana.
"Lihatlah surat ini." kata Hwon pada kasim. "Bagaimana orang bisa percaya kalau yang membuat ini adalah seorang gadis berumur 13 tahun?"
Hwon membaca surat itu, yang berisi sebuah sajak.
"Seorang biksu yang hidup di gunung, mendambakan sinar rembulan. Ia kemudian melihat cahaya bulan itu mengambang dalam sebuah botol, kemudian mengisinya. Tapi di kuil ia menyadari bahwa jika kau membuka botol dan menuang airnya, maka bulan itu akan menghilang."
Yeon Woo memohon pada Hwon agar memaafkan segala kesalahannya dan melupakan kejadian waktu itu.
"Jadi ia sudah bisa menebak teka-teki yang kuberikan dan memintaku melupakannya." gumam Hwon tersenyum seraya menatap pot pemberian Yeon Woo. "Bagaimana mungkin aku melupakanmu?"
Min Hwa meminta ayahnya agar menyuruh Yeom mengajarinya pelajaran juga. Namun sayang Raja menolak.
Min Hwa langsung menangis.
Dae Hyeong menyarankan pada Raja agar menjadikan putrinya, Bo Kyung, sebagai teman belajar Min Hwa. Namun Raja malah meminta putri Young Jae, yakni Yeon Woo, untuk ikut serta juga.
Young Jae menyampaikan pesan Raja pada Yeon Woo dan Yeon Woo setuju. Namun hal itu malah membuatnya tidak tenang. Istana adalah tempat yang berbahaya. Ia khawatir pada anak-anaknya.
Malam itu, Nok Young mengunjungi makam Ari.
"Ari, beritahu aku siapa anak yang harus kulindungi." ujar Nok Young.
Keesokkan harinya di istana, Ratu dan Ibu Suri berbincang.
Ibu Suri mengatakan pada Ratu agar berhati-hati dan terus memantau, karena mungkin saja diantara salah satu teman belajar Min Hwa ada yang akan menjadi istri Hwon.
Nok Young dan para peramal balai samawi kembali ke istana.
Anak kecil yang pernah di tolong oleh Yang Myeong berada diantara mereka juga.
Sesampainya di gerbang, Nok Young turun dari dalam tandu.
Disaat yang sama, Yeon Woo juga turun dari tandu tidak jauh darinya.
Nok Young terkejut melihat Yeon Woo. Ia teringat perkataan Ari, "Walaupun berada dekat dengan matahari akan mendatangkan bencana, namun takdirnya adalah berada di sisi matahari dan melindunginya. Tolong pastikan agar anak itu aman. Jaga dia demi aku."
Tidak lama kemudian, sebuah tandu lagi datang dan Bo Kyung melangkah keluar.
Nok Young terkejut melihatnya.
Bo Kyung menoleh ke arah Yeon Woo.
Yeon Woo membalas pandangannya.
"Itu adalah dua bulan." ujar Nok Young dalam hat
 
 Bersambung.....

Sinopsis The Moon That Embraces The Sun episode 3

Sinopsis The Moon That Embraces The Sun episode 3
"Kenapa kau datang ke istana?" tanya Bo Kyung pada Yeon Woo. "Apa kau juga akan menjadi teman belajar Putri?'
"Kau sendiri?" Yeon Woo balik bertanya.
Bo Kyung terlihat kesal dan tidak suka.
Nok Young masuk ke istana dan menemui Ibu Suri.
Ibu Suri meminta Nok Young memperlihatkan masa depan kedua gadis yang menjadi teman belajar Min Hwa. "Ratu masa depan." ujarnya. "Bantu aku melihat apakah diantara kedua gadis itu ada yang akan menjadi Ratu."
Nok Young terkejut mendengar permintaan Ibu Suri.
Dayang meminta Bo Kyung dan Yeon Woo menunggu di satu ruangan. Mereka duduk berjauhan dengan kaku.
Yeon Woo berusaha ramah dan mengajak Bo Kyung berteman.
Bo Kyung teringat perkataan Dae Hyeong. "Kau tidak boleh memiliki musuh di istana. Walaupun dia memang musuh, kau tidak boleh memperlihatkan wajahmu yang sebenarnya. Kau tidak boleh mudah mempercayai orang lain dan jangan biarkan orang lain tahu apa yang sedang kau pikirkan."
Bo Kyung mencoba tersenyum ramah pada Yeon Woo dan setuju untuk berteman baik.
Yeon Woo sangat senang dan meraih tangan Bo Kyung.
Ketika Yeon Woo tidak melihat, Bo Kyung cemberut dan muak dengan sentuhan tangan Yeon Woo.
Dalam pot pemberian Yeon Woo akhirnya tumbuh sebuah tanaman kecil.
Hwon kesal dan sangat tidak sabar. Kenapa tanaman ini tumbuh lama sekali?
"Kelihatanya ini bukan bunga." pikir Hwon. "Tanaman apa ini? Benar! Kenapa aku tidak menemuinya saja dan bertanya langsung?"
Beberapa saat kemudian, kasim datang. Ia melaporkan pada Hwon bahwa Yeon Woo menjadi salah satu teman belajar Min Hwa.
Hwon senang mendengarnya. "Jadi namamu Heo Yeon Woo." pikirnya dalam hati. "Nama yang cantik."
Hwon meminta Kasim Hyung Sun melakukan sesuatu untuknya, Namun kasim menolak, "Tidak, Pangeran!!"
Hwon mencengkeram tangan kasimnya erat.
"Kau tidak boleh bertemu diam-diam dengan putri seorang pejabat kerajaan." kata Kasim.
Sebagaimana-pun Hwon membujuk, kasim tetap menolak.
"Karena siapa kau tidak dipecat dan bahkan malah di promosikan?" tanya Hwon, memojokkan.
Kasim tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.
Kasim menitipkan 'surat cinta' Hwon untuk Yeon Woo pada seorang dayang.
"Sejak mengetahui kedatanganmu ke istana, aku menjadi tidak bisa tidur setiap malam." ujar Hwon dalam suratnya. "Aku menanti saat pertemuan kita."
Ratu memberi sedikit wejangan untuk Bo Kyung dan Yeon Woo.
Tidak lama kemudian, Min Hwa masuk.
"Siapa diantara kalian yang adiknya Guru Heo?" tanya Min Hwa pada Bo Kyung dan Yeon Woo.
"Aku." jawab Yeon Woo.
Min Hwa tertawa senang. "Aku sudah yakin pasti kau!" katanya. "Sama seperti Guru Heo, kau cantik sekali."
Bo Kyung menatap benci ke arah Yeon Woo.
Min Hwa lalu memberikan sebuah hadiah untuk Yeon Woo.
"Aku tidak bisa menerimanya." tolak Yeon Woo. Namun Min Hwa menjejalkan kantong hadiah itu di tangan Yeon Woo dengan paksa.
Bo Kyung dan Yeon Woo diantar untuk menyapa Ibu Suri.
Ibu Suri terlihat sangat menyukai keduanya.
Diam-diam, Nok Young mengamati mereka dari balik pintu.
"Di langit Josen, ada dua buah bulan.
Yang Myeong akhirnya kembali ke istana. Hwon sangat senang melihatnya dan langsung berlari memeluk.
Hwon mengajak Yang Myeong bermain sepak bola. Ia satu tim dengan Yang Myeong dan Yeom di tim biru, sementara di tim merah ada Woon.
Sebelum memulai pertandinga, Yang Myeong, Yeom dan Woon saling menautkan kepalan tangan mereka.
Hwon bingung. "Kalian saling mengenal?" tanyanya.
"Kami bertiga belajar dibawah Kepala Pelajar dan kami adalah sahabat." jawab Yang Myeong.
Hwon tertawa, teringat kebohongan yang diucapkannya pada Yeon Woo dulu. "Kau hampir saja menjadi kakakku." katanya pada Woon.
Woon, Yang Myeong dan Yeom bingung.
Di sisi lain, Yeon Woo, Min Hwa dan Bo Kyung menyulam bersama.
Di kotak sulam Yeon Woo ditemukan sebuah surat. Ia segera membuka dan membacanya.
Yeon Woo masih berpikir kalau Hwon marah padanya. Jadi 'surat cinta' kiriman Hwon, dibaca oleh Yeon Woo menjadi 'surat ancaman'
"Apa itu?" tanya Bo Kyung.
"Bukan apa-apa." jawab Yeon Woo seraya cepat-cepat menyembunyikan surat Hwon.
"Aku bosan!" seru Min Hwa. "Yeon Woo, ayo kita bermain di luar."
Min Hwa menarik tangan Yeon Woo dan mengajaknya keluar, meninggalkan Bo Kyung seorang diri.
Setelah kamar kosong, diam-diam Bo Kyung membaca surat dari Hwon. Saat itu, Bo Kyung sama sekali tidak tahu kalau Lee Hwon adalah Putra Mahkota.
Kasim datang untuk menjemput Yeon Woo.
Yeon Woo ketakutan dan berbohong dengan mengatakan kalau dia bukanlah orang yang dimaksud.
Tidak sengaja, Min Hwa melihat kasim Hyung Sun dan mencari tahu dimana keberadaan Yeom.
kasim keceplosan dan mengatakan kalau Yeom sedang bermain sepak bola bersama Hwon.
Min Hwa menarik Yeon Woo untuk menonton pertandingan sepak bola di lapangan.
Min Hwa asik menonton Yeom, sementara Yeon Woo terpana melihat Hwon.
Hwon bermain dengan sangat bersemangat.
Ibu Suri bertanya pada Nok Young, siapakah diantara kedua gadis yang akan menjadi Ratu.
Nok Young menjawab bahwa putri Dae Hyeong-lah yang tidak lama lagi akan menjadi penghuni kamar Ratu.
Ibu Suri tersenyum puas.
"Takdir adalah lelucon." pikir Nok Young dalam hati ketika meninggalkan ruangan Ibu Suri. "Yang satu pantas menjadi Ratu, namun tidak bisa menjadi menempati kamar Ratu. Walaupun yang satunya lagi tidak pantas menjadi Ratu, namun ia malah bisa menempati kamar Ratu. Dua bulan... dua matahari... dan juga... aroma kematian..."
Salah seorang pengawal istana tanpa sengaja membuat Hwon terjatuh. Ia langsung hendak ditangkap. Namun Hwon menyuruh anak buahnya melepaskan orang itu.
"Pertandingan ini ditentukan oleh kemenangan!" seru Hwon pada semua orang di lapangan. "Jika ada yang sengaja memberiku bola atau memberikan jalan padaku atau mengalah padaku... aku akan menghukum mereka! Apa kalian dengar?!"
Hwon dan yang lainnya kembali bermain bola.
Yang Myeong tersenyum melihat Yeon Woo. Namun pandangan Yeon Woo tertuju ke tempat lain, yakni Hwon.
Yang Myeong terlihat terpukul.
"Aku tidak peduli jika semua orang akan menjadi bawahan Putra Mahkota." ujar Yang Myeong dalam hati. "Selama kau, Yeon Woo, adalah milikku."
Sekembalinya ke ruangan, Min Hwa berpapasan dengan Raja dan para pejabatnya. Min Hwa mengatakan pada ayahnya bahwa ia sangat menyukai Yeon Woo.
Raja menanyakan sesuatu pada Yeon Woo dan Bo Kyung. Yeon Woo-lah yang bisa menjawab dengan benar. Raja berpesan agar segala urusan dalam istana tidak dibawa-bawa keluar.
Yang Myeong menyapa Raja di ruangannya. Seperti biasa, Raja bersikap sangat dingin padanya.
"Yang Mulia, aku ingin meminta sesuatu dari Anda." kata Yang Myeong.
"Kau menginginkan sesuatu?" tanya Raja, terkejut.
"Ya." jawab Yang Myeong. "Aku menyukai seorang gadis. Aku ingin hidup bersamanya bagaimanapun caranya. Jika Yang Mulia sudah menyiapkan pernikahanku, aku juga memohon agar Yang Mulia memikirkan perasaanku. Ini pertama kalinya aku meminta sesuatu dari Yang Mulia, dan mungkin juga akan menjadi yang terakhir."
"Dari keluarga mana dia?" tanya Raja.
Yang Myeong sangat terkejut, tidak menyangka kalau Raja akan menanggapi permintaannya.
"Dia adalah Heo Yeon Woo." jawab Yang Myeong.
"Aku mengerti." ujar Raja menanggapi. "Aku akan mempertimbangkannya."
"Apa?"
"Aku akan mempertimbangkannya." ujar Raja.
Yang Myeong benar-benar terkejut hingga tidak bisa berkata-kata.
Yang Myeong keluar ruangan Raja dengan ekspresi bahagia.
Di dalam ruangan, ekspresi raja melembut.
"Anak bodoh." gumamnya. "Aku hanya mengatakan agar kau berhati-hati jika ingin masuk ke istana. Aku tidak pernah melarangmu untuk datang."
Keluarga Heo terlibat perbincangan akrab malam itu.
Ayah Yeon Woo memuji putrinya sebagai putri terbaik di dunia.
Ibu Yeon Woo juga tidak mau kalah. Ia memuji Yeom sebagai putra terbaik di dunia.
Yeon Woo menemui Seol ketika Seol sedang berlatih pedang kayu.
"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu." kata Yeon Woo. Ia bercerita mengenai surat dari Hwon.
"Itu surat ancaman dan mengajak bertengkar." kata Seol.
Seol malah membuat Yeon Woo semakin cemas dan ketakutan.
Yeon Woo berjalan di halaman. Lagi-lagi bayangan Hwon muncul di hadapannya.
Hwon sedang tersenyum memandang bulan.
"Apa kau berpikir kalau aku mengancammu?" tanya Hwon.
"Kau tidak mengancamku?" Yeon Woo bertanya balik.
"Bagaimana menurutmu?"
"Jika aku menjawab tidak, apakah tetap akan mengirim orang untuk menemuiku?" tanya Yeon Woo.
"Lalu, apakah kau mau bertemu denganku?" tanya Hwon.
"Kurasa, akan sangat menyenangkan jika kita bisa bertemu lagi." jawab Yeon Woo seraya menunduk malu. "Apa kau akan mengirim orang lagi?"
Yeon Woo mendongak, namun bayangan Hwon sudah menghilang.
Dae Hyeong berpikir keras di ruangannya. Ia merasa kalau Yeon Woo akan menjadi ancaman dan halangan bagi jalan Bo Kyung untuk menjadi Ratu.
Bo Kyung masuk ke dalam ruangan.
"Hari ini di istana, apakah kau melakukan sesuatu yang membuat Putri tidak suka?" tanyaDae Hyeong pada Bo Kyung."
"Tidak!" jawab Bo Kyung cepat. "Aku tidak melakukan apapun."
"Lalu kenapa kau tidak bisa mendapatkan hati Putri?" tanya Dae Hyeong marah.
"Karena aku bukan adik Guru Heo." jawab Bo Kyung, hampir menangis. "Putri diam-diam jatuh cinta pada Guru Heo. Karena itulah ia sangat menyukai adik Guru Heo, yakni Yeon Woo. Selain itu, bahkan seorang anggota kerajaan mengiriminya surat. Tidak ada seorangpun yang memandangku di istana."
"Apa katamu? Seorang anggota kerajaan mengiriminya surat?"
"Aku tidak yakin." ujar Bo Kyung.
"Siapa nama orang itu?"
"Lee Hwon." jawab Bo Kyung.
Dae Hyeong sangat terkejut.
Malam itu pula Bo Kyung meminta bantuan ayahnya agar ia bisa tinggal di istana.
Keesokkan harinya, Dae Hyeong langsung melaporkan informasi tersebut pada Ibu Suri.
"Jangan khawatir." ujar Ibu Suri. "Tak masalah apakah Putra Mahkota menyukai gadis itu atau tidak. Pernikahan kerajaan bukan mengenai suka atau tidak suka."
"Tapi pemikiran Yang Mulia tidak sesederhana itu." bantah Dae Hyeong. "Ketika ang Mulia Raja melihat anak itu, ia kelihatan sangat menyukainya. Ia sengaja memasukkan kakak dan adik Heo ke dalam istana."
"Untuk apa dia melakukan itu?" tanya Ibu Suri.
"Ia ingin menyingkirkan keluarga Ratu dari istana." jawab Dae Hyeong.
"Ini waktunya kita bertindak." ujar Ibu Suri.
Bo Kyung berjalan masuk ke dalam istana.
Mendadak, Kasim muncul dan mengajaknya bertemu Hwon. Ia mengira Bo Kyung adalah Yeon Woo.
Hwon menunggu kedatangan Yeon Woo.
Ia belajar membawa sikap agar terlihat menakjubkan di depan Yeon Woo. Ia bahkan mencoba tersenyum manis.
Seseorang berjalan masuk ke dalam ruangan. Jantung Hwon berdebar kencang.
Gadis yang ditunggu-tunggu tiba. Bo Kyung menunduk.
Hwon menoleh, namun tidak bisa melihat wajah Bo Kyung.
"Sejak hari itu, aku tidak bisa melupakanmu." ujar Hwon. "Setelah mendengar kalau kau menjadi teman belajar adikku, aku jadi ingin bertemu denganmu lagi."
Bo Kyung tersenyum senang.
Hwon meminta gadis itu mengangkat wajahnya. Betapa terkejut Hwon ketika melihat bahwa gadis itu bukan Yeon Woo.
"Siapa kau?" tanya Hwon. "Kenapa kau disini?"
"Aku putri Yoon Dae Hyeong, Yoon Bo Kyung." jawab Bo Kyung.
Ah, rupanya si kasim salah menjemput orang.
"Maafkan aku!" seru Hwon. "Ini kesalahan!"
Hwon bergegas keluar dari ruangan. Ia memberikan pandangan kesal pada kasimnya.
Min Hwa dan Yeon Woo membuat gelang. Min Hwa mengatakan bahwa ia ingin memberikan gelang tersebut untuk Yeom.
"Aku juga ingin memberikan ini pada kakakku." kata Yeon Woo.
"Jangan! Kau berikan saja gelang ini pada kakakku." kata Min Hwa. "Aku akan membantumu memberikan gelang ini padanya."
"Jangan!" tolak Yeon Woo cepat. "Ini terlalu jelek. Aku akan membuat yang lebih bagus."
Bo Kyung masuk ke dalam ruangan dan bergabung bersama mereka.
Bo Kyung akhirnya sadar, bahwa mungkin saja gadis yang dimaksud oleh Hwon adalah Yeon Woo.
Hwon mengomeli kasimnya karena menjemput orang yang salah.
Kasim bercerita bahwa rupanya Yeon Woo berbohong. Ia kemudian menggambar diagram otak untuk mengetahui jalan pikiran Yeon Woo.
Di gambar tersenyum, kasim menggambarkan bahwa Yeon Woo hanya mengingat Hwon setitik saja di otaknya.
Hwon sangat kesal.
Saat Hwon dan Bo Kyung keluar dari ruangan tempat pertemuan mereka, seorang dayang tanpa sengaja melihat. Para dayang itu bergosip dan didengar oleh Ratu.
Ratu bicara pada Raja, kemudian memerintahkan orang untuk menangkap kasim.
Raja sangat parah pada Hwon. "Karena tindakanmu yang sembrono, anak itu akan menjadi korban peperangan politik! Apa kau mengerti!"
Hwon akhirnya mengakui pada ayahnya kalau ia sudah jatuh cinta pada Yeon Woo, gadis yang juga dicintai oleh Yang Myeong.
Raja terdiam sejenak, teringat Yang Myeong. "Aku akan menganggap kalau aku tidak pernah mendengar semua ini." katanya. "Kali ini aku akan melepaskanmu. Tapi jangan buat aku kecewa lagi, kau mengerti?"
Malam itu, Bo Kyung dan Yeon Woo berjalan bersama. Bo Kyung lebih banyak diam dan kelihatan berpikir. Yeon Woo menyapanya dengan menanyakan apakah Bo Kyung terlambat karena kedinginan di tandu dan secara spontan Bo Kyung berteriak marah.
Sadar kalau sikapnya salah, ia kembali berpura-pura ramah.
"Tadi pagi aku tidak terlambat karena kedinginan di tandu." ujar Bo Kyung.
"Lalu kenapa?" tanya Yeon Woo.
"Tapi ini rahasia." Bo Kyung mendekatkan kepalanya ke telinga Yeon Woo untuk membisikkkan sesuatu. "Aku bertemu dengan Putra Mahkota."
Yeon Woo terkejut.
"Dia mengatakan kalau ia pernah melihatku dari jauh." tambah Bo Kyung. "Dan dia ingin sekali bertemu denganku."
Yeon Woo terdiam, kelihatan sangat terkejut.
"Kau harus jaga rahasia ini ya." ujar Bo Kyung seraya berjalan pergi.
Raja dan para pejabat mengadakan pertemuan untuk membicarakan pernikahan Putra Mahkota. Raja ingin mencari Putri Mahkota untuk Hwon.
Hwon memperhatikan tanaman yang diberikan oleh Yeon Woo. Ia sangat penasaran tanaman apakah itu.
"Hyeon Sun." panggil Hwon pada kasimnya.
Kasim meneliti dari dekat. "Ini bukan bunga." katanya sok tahu. "Ini selada."
"Selada?" tanya Hwon dengan ekspresi sedih. "Kenapa kau memberiku selada? Aku tidak akan pernah bisa mendengar jawabannya."
Hwon meminta kasimnya membuang tanaman itu.
Hari itu, istana akan mengadakan acara.
Hwon dan rombongannya berjalan keluar. Kebetulan mereka berpapasan dengan rombongan Yeon Woo.
Hwon menatap Yeon Woo, dan Yeon Woo mendongak sedikit untuk melihatnya.
Tanpa berkata apa-apa, Hwon berjalan pergi.
Para peramal istana sedang melakukan persiapan upacara doa.
Istana mengadakan acara. Semua keluarga istana, termasuk Yang Myeong ikut serta dalam acara tersebut.

Yang Myeong tersenyum senang melihat Yeon Woo.
Mata Yeon Woo hanya tertuju pada Hwon, namun Hwon sama sekali tidak menoleh padanya.
Ketika Yeon Woo menunduk untuk melihat gelang yang akan diberikannya untuk Hwon, Hwon melihat ke arahnya.
Yang Myeong kelihatan terpukul melihat sikap Hwon dan Yeon Woo.

Nok Young melakukan upacara doa.
Mendadak ia mendapatkan bayangan, yakni sebuah kuburan.
Yeon Woo sedang asyik melihat pertunjukkan tarian.
Tiba-tiba ia mendengar seseorang bicara, "Cepatlah lari."
Yeon Woo menoleh mencari asal suara.
"Ini bukanlah takdir yang bisa kau hindari." ujar suara itu. "Jangan lagi membuat ikatan dengannya."
Yeon Woo terus mencari asal suara. Ia berjalan perlahan masuk diantara orang-orang yang menari. Dan disana, ia melihat Nok Young.
"Sekarang adalah kesempatanmu untuk menghindari takdirmu." ujar Nok Young. "Ketika kau bisa menghindarinya, hindari sebanyak yang kau bisa."
Nok Young menghilang.
Yeon Woo berjalan lagi untuk mencari Nok Young. Namun mendadak seseorang yang mengenakan topeng muncul di hadapannya.
Yeon Woo berteriak kaget.
Si manusia bertopeng menyuruhnya diam, kemudian meraih tangan Yeon Woo dan mengajaknya pergi. Gelang Yeon Woo terjatuh.
Ketika si manusia bertopeng dan Yeon Woo lewat, secara tidak sengaja Yang Myeong melihat mereka.

Setelah merasa keadaan aman, si manusia bertopeng membuka topengnya. Rupanya ia adalah Hwon.
Yeon Woo terperanjat.
"Kau tahu siapa aku, kan?" tanya Hwon.
Yeon Woo hanya mengangguk, tidak bisa berkata-kata.
"Kalau begitu, katakan siapa aku." ujar Hwon.
"Kau adalah... Joseon...." Yeon Woo terbata-bata.
"Aku adalah Putra Mahkota Joseon, Lee Hwon." ujar Hwon, tersenyum.
Kembang api dinyalakan.
Min Hwa tersenyum menatap Yeom.
Bo Kyung melihat gelang Yeon Woo di tanah.
"Kau menyuruhku melupakanmu." ujar Hwon. "Kau berharap agar aku melupakanmu, bukan? Maafkan aku. Aku ingin melupakanmu, tapi tidak bisa."
Kembang api terus meledak di langit dan bunga-bunga bertaburan diantara Hwon dan Yeon Woo.
Tanpa mereka sadari, Yang Myeong berada disana menyaksikan semuanya.

Sinopsis The Moon That Embraces The Sun episode 4

Sinopsis The Moon That Embraces The Sun episode 4
Mereka sama sekali tidak menyadari kalau ada beberapa orang yang menyaksikan mereka dari jauh.
Yang Myeong kelihatan sangat sedih dan terpukul melihat Yeon Woo dan Hwo.
Bukan hanya Yang Myeong, tapi Bo Kyung rupanya juga melihat mereka. Ia menangis.
"Jadi... Namamu adalah Yeon Woo." ujar Hwon. "Apa artinya adalah gerimis?"
"Ya, begitulah artinya dalam bahasa Cina." ujar Yeon Woo.
"Bisa juga diartikan embun." ujar Hwon. "Nama yang sangat indah."
Yeon Woo tersenyum.
"Maafkan kelancanganku, tapi apa arti dari nama Hwon?"
"Arti namaku adalah matahari." jawab Hwon. "Kenapa sebelumnya kau menghindariku? Apa kau tidak menyukaiku?"
"Bukan begitu!" jawab Yeon Woo cepat.
Hwon senang mendengarnya. "Jadi kau menyukaiku!" serunya.
Yeon Woo langsung menunduk malu.
"Tapi kenapa kau menolak menemuiku dan membuatku mengambil resiko?" tanya Hwon lagi.
Yeon Woo hanya menunduk diam.
"Kau masih tidak mau menjawab, hah?" tanya Hwon.
"Apa Putra Mahkota sudah memiliki seseorang di hati?" tanya Yeon Woo malu.
"Apa maksudmu?" tanya Hwon bingung.
"Belum lama ini, aku mendengar kalau Putra Mahkota menemui putri seorang pejabat."
"Itu semua karena kau!" seru Hwon kesal. "Jika kau tidak berbohong, kasimku tidak akan menjemput orang yang salah dan menyebabkan kesalahpahaman!"
Wajah Yeon Woo langsung bersinar. "Jadi..."
Hwon terdiam, menatap Yeon Woo tajam.
"Tunggu sebentar." ujar Hwon. "Jangan bilang kalau kau..."
"Apa?" tanya Yeon Woo bingung.
Hwon mendekatkan kepalanya pada Yeon Woo. "Apa kau cemburu karena aku menemui gadis itu?" tanyanya.
"Apa?" seru Yeon Woo cepat, buru-buru memalingkan wajahnya dari Hwon. "Tentu saja tidak."
Hwon tertawa. "Bagus sekali kalau seorang gadis merasakan cemburu di hatinya. Seseorang yang akan menjadi pendampingku suatu saat nanti bisa juga cemburu."
"Sudah kubilang aku tidak..." ucapan Yeon Woo terpotong. "Apa?"
Hwon tersenyum melihat wajah terkejut Yeon Woo.
"Beberapa hari lagi akan ada ujian istana." kata Hwon. "Ujian itu dilaksanakan untuk memilih calon pendamping bagi Putra Mahkota. Kemungkinan kau akan dipilih sebagai kandidat. Aku akan menunggu. Aku yakin kau bisa menjadi Putri Mahkota."
Yeon Woo terlihat cerah begitu mendengar ucapan Hwon.
Hwon tersenyum.
Kelopak bunga sudah tidak bertaburan lagi.
Hwon terlihat kesal, kemudian berdeham.
Dari atas atap bangunan, kasim terbangun. Rupanya ia ketiduran.
Kasim Hyeong Sun langsung menebarkan kelopak bunga lagi.
Gokil abis.
Hwon sangat bahagia karena pertemuannya dengan Yeon Woo tadi malam. Ia terus-terusan nyengir-nyengir sendiri sambil menatap tanaman pemberian Yeon Woo.
"Aku tahu Putra Mahkota pasti akan menginginkan tanaman itu lagi." ujar Kasim. "Karena itulah aku tidak pernah membuangnya."
"Yeon Woo punya alasan memberiku selada ini." ujar Hwon. "Kau tidak tahu alasannya kan?"
Kasim tersenyum. "Alasannya adalah untuk menyampaikan harapan rakyat." jawabnya.
Hwon terkejut dan menoleh menatap kasimnya.
"Setiap hari Putra Mahkota selalu menunggu akan tumbuh menjadi apa tanaman tersebut." ujarnya. "Sama halnya ketika para petani dan rakyat jelata menunggu sayuran mereka tumbuh. Konon selada dipercaya sebagai obat. Mulanya mungkin Anda akan lelah karena menunggu, namun jika sudah tumbuh, selada bisa digunakan untuk mengembalikan tenaga. Selada juga dapat meningkatkan kepandaian seseorang dan menurunkan demam. Saat itu, Putra Mahkota tidak menyukai Guru Heo. Nona Yeon Woo ingin menyampaikan agar Anda tidak lagi mempermasalahkan hal itu dan konsentrasi belajar."
Hwon melongo mendengar penjelasan kasim yang panjang lebar.
"Kau juga kagum apda kebijaksanaan Yeon Woo bukan?" tanya Hwon. "Tunggu dan lihat saja. Dia akan menjadi Ratu negeri ini!"
Di kota, pihak istana menyebar pengumuman bahwa akan diadakan kontes pemilihan Putri Mahkota.
Yang Myung, yang saat itu sedang berjalan-jalan di kota, terkejut membaca pengumuman itu.
Hari itu, Hwon pergi belajar dengan sangat bersemangat.
Ketika pelajaran berakhir, Hwon bertanya pada Yeom, "Apakah Yeon Woo sudah mendaftar untuk ujian?"
"Belum." jawab Yeom dengan ekspresi wajah tidak suka.
"Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Hwon.
Yeom langsung bersujud di hadapan Hwon.
"Putra Mahkota, mohon kabulkan permintaan hambamu ini." kata Yeom. "Dari sekian banyak gadis di Joseon, ia pasti akan menjadi salah satu yang terpilih. Tapi, bisakah adikku jangan dipilih? Hamba memohon pada Anda, Putra Mahkota."
Hwon terkejut. "Kenapa kau memohon seperti ini?"
Yeom terdiam sesaat. "Putra Mahkota dan adikku tidak mungkin bisa bersama." jawabnya.
"Aku dan Yeon Woo tidak bisa bersama?!" tanya Hwon kaget.
"Aku akan menerima hukuman apapun dari Anda, tapi..."
"Apa kau ingin menjadi pemberontak dengan membangkang perintah Raja?" tanya Hwon mengancam. "Aku tidak bisa melakukannya. Alasanku yang pertama adalah karena aku tidak ingin kehilanganmu. Alasan yang kedua adalah karena aku..."
Yeom menunggu lanjutan perkataan Hwon, namun Hwon hanya diam.
"Aku... menyukaimu!" seru Hwon. Ia sengaja berbohong karena malu mengatakan kalau ia menyukai Yeon Woo.
Kasim, dayang dan para pengawal di luar mendengar perkataan Hwon dengan kaget.
Yeom melongo.
Hwon malu mendengar perkataannya sendiri. Ia menutupi wajahnya dan berjalan pergi dengan cepat, meninggalkan Yeom yang masih terbengong-bengong.
Kasim berusaha menjelaskan pada dayang dan pengawal yang mendengar bahwa yang disukai Hwon bukanlah Yeom.
Kasim juga masuk ke dalam ruangan dan menjelaskan pada Yeom bahwa ia salah paham. Yang disukai Hwon bukan Yeom, melainkan seseorang yang mirip dengan Yeom.
Yeom hanya diam dan masih melongo.
Hwon pusing dengan ulahnya sendiri.
Alasan Hwon tidak mau mengakui perasaannya adalah karena ia belum bicara pada Yeon Woo.
"Aku belum mengatakannya pada Yeon Woo, mana mungkin aku mengatakannya pada orang lain terlebih dahulu?" ujar Hwon pada kasimnya.
"Bagaimana mungkin Guru Heo membuat permohonan seperti itu?" tanya Hwon kesal.
Kasim menarik napas panjang. "Anda benar-benar tidak tahu alasannya?" tanyanya.
Hwon mendengus. "Ia merasa kalau aku tidak pantas untuk adiknya."
"Maafkan aku, tapi bukan itu maksud Guru Heo." ujar Kasim.
"Apa maksudmu?"
Ayah dan Ibu Yeon Woo sangat mengkhawatirkan putri mereka. Jika Yeon Woo menjadi salah satu dari tiga besar, maka ia akan tetap menjadi wanita milik Putra Mahkota dan tidak bisa menikah dengan pria lain. Pemenang akan menjadi Putri Mahkota, namun dua gadis yang tidak menang tidak dinikahi oleh Putra Mahkota dan juga tidak bisa menikah dengan pria lain. Sebagai informasi, Ibu Yang Myeong adalah salah satu dari wanita tiga besar yang tidak menjadi Putri Mahkota. Namun karena ia berhasil mendapat perhatian Raja, ia dibawa ke istana dan menjadi selir. Para wanita yang lainnya terlupakan begitu saja.
Diam-diam, Yeon Woo mendengar semua percakapan mereka.
Hwon tahu kalau Ibu Suri pasti menginginkan keluarganya, yakni Bo Kyung, yang menjadi Putri Mahkota. Karena itulah ia pergi menemui ayahnya.
Ketika Hwon sedang berada di dalam ruangan Raja, Yang Myung datang dan ingin menemui Raja juga.
Hwon bersujud di hadapan ayahnya.
"Ananda ingin memohon pada Yang Mulia menyangkut pemilihan Putri Mahkota." ujar Hwon.
"Yang menangani pemilihan ini bukan aku, tapi Ibu Suri." ujar Raja.
"Yang Mulia, tolong berikan perintah agar pemilihan Putri Mahkota dilakukan dengan persyaratan ketat." ujar Hwon.
"Aku tidak bisa melakukan apapun." tolak Raja. "Lebih baik kau pergi menemui Ibu Suri untuk membicarakan masalah ini."
Hwon berusaha membujuk ayahnya, namun ayahnya terus mengatakan bahwa ia tidak berhak ikut campur tangan. Akhirnya Hwon meminta hal yang paling sederhana dari Raja, yakni membuat agar pemilihan Putri Mahkota ini berjalan dengan adil.
Sekembalinya dari ruangan Raja, Hwon memerintahkan kasimnya untuk mengamati keadaan akademi. Kelihatannya ia punya rencana tertentu.
Setelah Hwon keluar, Yang Myeong masuk ke ruangan Raja. Ia menagih janji Raja untuk menikahkan ia dengan Yeon Woo segera setelah pemilihan Putri Mahkota selesai.
"Aku tidak pernah menjanjikan hal itu padamu." ujar Raja. "Aku hanya mengatakan bahwa aku akan mempertimbangkan permintaanmu. Jika tidak ada lagi yang ingin kau katakan, cepat pergi."
Yang Myeong kelihatan sangat terpukul dan sedih mendengar pernyataan ayahnya itu.
"Apakah ini karena permintaan Putra Mahkota?" tanya Yang Myeong. "Jangan katakan bahwa ia punya permintaan yang sama denganku. Ia hanya seorang anak pejabat. Apakah kau kira ia bisa menjadi Ratu?"
"Jika ia lolos, maka semuanya mungkin." jawab Raja.
"Jika ia tereliminasi dalam pemilihan, maukah kau memberikan dia padaku?" pinta Yang Myeong.
"Gadis yang masuk tiga besar adalah juga milik Putra Mahkota." ujar Raja. "Apa kau lupa peraturan ini?!"
"Jadi kau ingin melihat gadis yang kucintai terpuruk?" tanya Yang Myeong penuh emosi. "Semua orang sudah tahu kalau putri pejabat Yoon-lah yang akan terpilih menjadi Putri Mahkota!" seru Yang Myeong. "Kau pikir aku hanya akan berdiam diri melihat semuanya?"
"Apakah aku harus menghukummu agar kau berhenti bicara?!" bentak Raja. "Jika kau terus bersikeras, maka ini sama halnya dengan... pemberontakan."
Yang Myeong keluar dari ruangan Raja dengan kecewa sekaligus sedih.
Yang Myeong berdiri menatap halaman istana, teringat masa kecilnya dengan Hwon.
"Jangan tertawa!" seru Yang Myeong, melihat Hwon kecil yang selalu tersenyum dan tertawa senang bila bersamanya. "Kau selalu bisa mendapatkan semua yang kuinginkan dengan mudah, selalu bisa memiliki semua orang yang kuinginkan. Tolong berhenti tersenyum seperti itu agar aku bisa membencimu. Jika kau tidak bisa melakukannya, tolong lenyapkan kesedihan dan ambisi yang besar dari dalam hatiku."
Raja pusing dengan permasalahan Yang Myeong dan Hwon. Ia bangkit hendak melihat tawa putrinya.
Di saat yang sama, Min Hwa sedang mengintip Yeom.
Yeom juga sedang pusing memikirkan Yeon Woo. Saking pusingnya, ia bahkan tidak sadar kalau ia melewati Min Hwa.
Min Hwa kesal dan langsung menghadang jalan Yeom.
Yeom terkejut melihat Min Hwa. "Maaf!" katanya. "Hamba sedang memikirkan sesuatu jadi tidak melihat..."
Min Hwa menyerahkan gelang buatannya pada Yeom.
Yeom menerimanya.
"Apa kau sudah menikah?" tanya Min Hwa.
"Hamba belum menikah." jawab Yeom.
Min Hwa bersorak senang. "Lalu apa kau sudah punya calon istri?"
"Hamba belum memiliki calon istri." jawab Yeom lagi.
Min Hwa melompat-lompat kegirangan. Ia mengulurkan tangannya dan menyentuh Yeom.
Yeom kebingungan melihat tingkah Min Hwa. Ia tersenyum.
"Cantik sekali." gumam Min Hwa spontan. Karena merasa malu atas ucapannya, ia berjalan kabur.
Min Hwa berpapasan dengan Raja. Dengan gaya sok dewasa, ia kemudian mengundang Raja ke ruangannya.
Min Hwa mengatakan pada Raja kalau ia ingin menikah dengan Yeom.
Raja tambah pusing akan tingkah anak-anaknya.
"Tidak." jawab Raja cepat.
"Tidak? Kenapa?!" tanya Min Hwa.
"Ia adalah orang yang sangat jenius yang jarang ditemukan walau dalam waktu ribuan tahun." kata Raja. "Ia akan menjadi pilar negara."
"Karena itulah ia tidak bisa menjadi suami Putri Raja?" tanya Min Hwa.
"Jika ia menjadi suamimu, ia tidak akan bisa menduduki posisi di pemerintahan." kata Raja. "Ia juga tidak bisa terlibat dalam politik. Aku tidak bisa membiarkan orang yang sangat berbakat seperti dia menjadi suamimu."
"Kalau begitu, aku hanya bisa menikahi seseorang yang jelek dan bodoh?" tanya Min Hwa shock.
"Bukan begitu." kata Raja. "Hanya Guru Heo-lah yang tidak bisa kau nikahi."
Namun Min Hwa tidak mau mendengar perkataan Raja lagi. Ia menangis keras. "Aku hanya ingin menikahi orang itu!" tangisnya.
"Kubilang tidak!" seru Raja tegas.
Malam itu, Yeom berkunjung ke rumah Seol. Tanpa sengaja, Yeom melihat ketika gadis itu sedang berlatih beladiri.
"Kemampuan pedangmu lumayan." ujar Yeom.
Seol menunduk ketakutan karena ketahuan belajar pedang. "Maafkan aku, Tuan muda." katanya. "Untuk apa Anda datang kemari?"
"Aku ingin menanyakan sesuatu." ujar Yeom. Ia meminta Seol memandangnya. "Jika ada seseorang yang mirip aku, siapa menurutmu yang mungkin?"
"Nona Yeon Woo." jawab Seol cepat tanpa banyak berpikir.
"Sesuai perkiraanku." gumam Yeom. "Tapi mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Bagaimana mereka bisa saling mengenal? Kapan dan dimana?"
Karena penasaran, Yeom bertanya langsung pada Yeon Woo.
Yeon Woo menceritakan semuanya pada kakaknya itu.
"Apa kau merasakan hal yang sama dengan Putra Mahkota?" tanya Yeom, cemas.
Yeon Woo menunduk dan diam sejenak, kemudian menjawab, "Aku tahu yang kakak cemaskan, tapi..."
"Apa kau tahu kalau Putri Mahkota sudah ditetapkan?" tanya Yeom waswas. "Keputusannya sudah ada."
"Aku tahu." jawab Yeon Woo.
"Katakan pada mereka bahwa kau punya penyakit." ujar Yeom. "Hindari pemilihan itu."
"Aku tidak bisa melakukannya." tolak Yeon Woo. "Aku tidak bisa mundur. Aku tidak bisa membohongi Putra Mahkota."
Yeom Woo menarik napas panjang, menandakan kalau ia menyerah untuk membujuk adiknya.
Hwon memerintahkan anak buahnya untuk membawa pemimpin Perkumpulan Mahasiswa Akademi ke hadapannya. Pemimpin tersebut ternama Hong Gyu Tae.
"Sejak aku diberi gelar Putra Mahkota, aku juga diperintahkan untuk belajar di Akademi." kata Hwon. "Belajar pada orang pandai sepertimu adalah suatu kehormatan bagiku. Namun sekarang, belajar di akademi adalah hal yang memalukan."
"Apa?" Gyu Tae terkejut.
"Kau harus memanfaatkan hasil belajarmu untuk membantu Raja dengan jalan yang benar." ujar Hwon. "Itulah tugasmu sebagai perjabat negara."
"Maaf jika tebakanku salah, tapi apa maksud Anda ini menyangkit pemilihan Putri Mahkota?" tanya Gyu Tae.
"Pemilihan Putri Mahkota tidak boleh dijadikan ajang untuk memperoleh kekuasaan keluarga." ujar Hwon.
Ibu Suri merasa sangat yakin kalau pemilihan Putri Mahkota ini sepenuhnya ada di tangannya. Namun jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, ia harus menyiapkan serangan balasan.
"Anda bisa melenyapkan matahari dengan mudah." ujar Dae Hyeong. "Bagaimana mungkin melenyapkan bulan menjadi sulit? Ditambah lagi, Pemimpin Balai Samawi adalah bawahan Ibu Suri. Apa lagi yang kau takutkan?"
Ibu Suri tersenyum.
Gyu Tae memimpin para mahasiswa Akademi untuk membuat petisi pada kerajaan agar mengadakan pemilihan Putri Mahkota dengan adil.
"Demostrasi ini direncanakan langsung oleh Putra Mahkota." pikir Gyu Tae, tersenyum. "Masa depan Joseon akan menjadi sangat menarik."
Raja membaca surat petisi dari para mahasiswa.
"Semua mahkluk, terutama manusia, bisa menemukan posisi yang paling tepat dan cocok untuk mereka. Inilah yang aku rencanakan jika aku menduduki monarki. Aku ingin memulai semuanya dari Pemilihan Putri Mahkota." Raja teringat Hwon berkata padanya kemarin.
"Apa kau percaya bahwa pendapatmu benar?" tanya Raja.
"Ya." Hwon menjawab tanpa ragu.
"Kalau begitu tunjukkan padaku." kata Raja. "Inilah yang dinamakan politik."
Raja tersenyum.
"Menggunakan pengaruh Akademi untuk memperoleh perhatian masyarakat?" pikirnya. "Menarik sekali, Putra Mahkota."
Lima hari berlalu dan para mahasiswa masih saja melakukan demonstasi di depan istana.
Para pejabat menuntut Raja agar memberi jawaban akan petisi para mahasiswa tersebut.
Ada pejabat yang pro dan yang kontra menanggapi petisi mahasiswa.
"Sudah sejak dulu pemilihan Putri Mahkota selalu dipegang oleh ibu suri." ujar Prjabat yang kontra.
"Aku setuju! Orang yang memimpin demonstrasi ini harus dihukum!" ujar pejabat yang lain.
"Mereka melakukan itu karena cemas pada kondisi negara dan tanpa keegoisan." kata Young Jae, membela mahasiswa. "Bagaimana mungkin kalian mengatakan bahwa tindakan mereka salah? Lihatlah dulu opini masyarakat untuk mendapatkan jawaban yang tepat."
Raja berpikir dan akhirnya memutuskan, "Pemilihan Putri Mahkota sekarang berbeda dengan pemilihan yang lalu. Ibu Suri tidak akan memegang tanggung jawab. Aku sendiri yang akan memegang pemilihan tersebut."
Seorang pejabat menjawab petisi para mahasiswa.
Gyu Tae tersenyum puas mendengar titah tersebut.
Ibu Suri langsung menemui Raja untuk protes.
"Aku membuat pilihan pada seorang gadis bukan karena ia masih anggota keluarga." ujar Ibu Suri.
Raja tersenyum. "Jika begitu, merubah proses pemilihan tentu tidak akan menjadi masalah." katanya. "Jika gadis itu memang hebat, ia pasti akan tetap terpilih. Bukankah begitu?"
"Jadi kau menolak permintaanku?" tanya Ibu Suri dengan marah.
Apapun yang dikatakan Ibu Suri tidak akan bisa mengubah keputusan Raja.
Ibu Suri benar-benar marah. "Siapa yang melindungi tahtamu ketika para pejabat menentangmu? Aku harap kau tidak lupa kalau tahtamu itu adalah atas usahaku dan clanku."
"Aku tidak akan lupa." jawab Raja. "Mana mungkin aku lupa?"
Raja teringat ketika Uiseong dibunuh.
"Demi kekuasaan dan kekayaan clanmu, Ibu Suri dan Yoon Dae Hyeong melakukan tindakan kejam." ujar Raja tajam. "Karena itulah Pangeran Uiseong terbunuh secara tidak adil."
Ibu Suri terkejut. "Jika kau tahu, seharusnya kau tidak memperlakukan aku seperti ini." katanya dengan suara bergetar. "Karena aku, tangan Yang Mulia tidak kotor sedikitpun oleh darah."
"Kau pikir apa alasanku tetap diam?!" seru Raja. "Aku diam selama 13 tahun agar tetap taat pada Ibu Suri! Karena itulah, tolong jangan membuat permintaan egois lagi. Pemilihan Putri Mahkota akan dilakukan secara adil."
Mata Ibu Suri berkaca-kaca karena marah.
Yeon Woo diajari oleh ibunya. segala sesuatu berkaitan tentang tata krama.
Ibunya kelihatan sangat cemas, karena itulah Yeon Woo berusaha menenangkannya.
"Jangan cemas, Ibu." ujar Yeon Woo. "Apapun hasilnya nanti, aku tetap ingin menjadi putri yang bisa membanggakan Ayah dan Ibu. Jadi, lihat saja aku, Ibu."
Dengan mata berkaca-kaca, ibunya memeluk Yeon Woo.
Pemilihan Putri Mahkota akan dimulai.
Yeon Woo berhasil lolos dalam putaran final.
Malam itu, Yang Myeong menemui Yeon Woo untuk pamit.
"Setelah menetap disini beberapa hari, aku ingin melakukan perjalanan lagi." kata Yang Myeong. "Aku datang karena ingin melihatmu dulu sebelum pergi."
Yang Myeong mendekatkan kepalanya pada Yeon Woo agar bisa melihat wajah gadis itu lebih jelas.
"Wajah yang jelek." ledek Yang Myeong. "Karena aku sudah melihat, aku akan pergi sekarang."
"Apa kau akan kembali?" tanya Yeon Woo.
"Kenapa?" tanya Yang Myeong. "Apa kau takut aku tidak kembali?"
"Itu karena kau biasanya tidak membiarkan orang menemukanmu dalam waktu tertentu." jawab Yeon Woo. "Semua orang akan khawatir. Jika kau pergi, paling tidak berilah kabar..."
"Apa kau mau pergi denganku?" tanya Yang Myeong. "Walaupun kau pergi, masih ada putri Pejabat Yoon yang akan menjadi Putri Mahkota. Jika kau menempati urutan tiga besar, kau masih bisa menjadi selir. Jika tidak, maka kau tidak akan bisa menikah dan akan hidup sendirian sepanjang sisa hidupmu. Jika kau ingin mau, aku akan meninggalkan gelar Pangeran dan membawamu pergi jauh."
"Jika ini lelucon, maka ini sama sekali tidak lucu." kata Yeon Woo.
Yang Myeong tertawa. "Ya, ini tidak lucu." katanya. "Tidakkah kau menyesal akan keputusanmu ini? Walau hanya sedikit?"
"Ya." jawab Yeon Woo.
"Jangan berpikir terlalu banyak." ujar Yang Myeong. "Kau pasti bisa mengalahkan semua sainganmu dengan mudah."
Yang Myeong menyentil kening Yeon Woo dan berjalan pergi.
Yang Myeong melompat keluar dari rumah Yeon Woo. Disana, Woon sudah menunggu.
Yang Myeong bercakap-cakap dengan Woon. Ia mengatakan bahwa ia pernah membaca sebuah buku mengenai Confucius.
"Jika seorang ayah memukul anaknya tanpa alasan, maka kau harus melarikan diri." ujar Yang Myeong.
"Jadi kau berniat pergi?" tanya Woon.
"Sebuah pohon berniat menetap, namun angit terus-menerus berhembus dengan kencang. Apalagi yang bisa kulakukan? Lebih baik menghindar daripada rusak atau ditebang."
Yang Myeong tersenyum dan mendongak menatap bulan. "Tapi bulan itu... Tak peduli kemanapun aku pergi, ia akan tetap mengikutiku."
Raja menguji tiga gadis yang masuk putaran final. Mereka adalah Yeon Woo, Bo Kyung dan salah seorang gadis lagi.
"Aku adalah Raja Joseon." ujar Raja. "Jika kalian menilaiku dalam uang, menurut kalian, berapa hargaku?"
Raja meminta gadis pertama menjawab. Namun gadis itu kebingungan. "Maafkan Saya. Saya tidak tahu berapa banyak Yang Mulia dihargai dalam uang."
Raja meminta Bo Kyung menjawab. "Harga Yang Mulia lebih tinggi dari Gunung Tai dan lebih luas dari laut. Mohon maaf, tapi tunggulah sampai ada alat yang bisa digunakan untuk mengukut luasnya langit dan dalamnya lautan. Jika alat itu sudah ada, Yang Mulia boleh bertanya lagi."
Ibu Suri tersenyum puas mendengar jawaban Bo Kyung.
Raja meminta Yeon Woo menjawab. "Jika Yang Mulia meminta, maka saya akan menjawab." katanya. "1 yang."
Raja terkejut.
Ibu Suri tersenyum merendahkan.
Pada saat yang sama, Hwon sedang belajar memanah.
Mendadak, kasimnya datang terengah-engah.
"Ada apa?" tanya Hwon cemas.
Di sisi lain, Yeon Woo berhasil terpilih menjadi Putri Mahkota.
"Bagi rakyat miskin, tidak ada hal yang lebih berharga daripada uang 1 yang." Raja teringat jawaban Yeon Woo. "Orang yang memiliki 10.000 yang tidak menganggap kalau 1 yang itu berharga. Bagi rakyat miskin, Yang Mulia adalah 1 yang mereka yang sangat berharga. Semua kebijakan Yang Mulia adalah demi kebaikan rakyat jelata."
"Menantu yang seperti ini jarang ditemui." kata Raja, memuji Yeon Woo.
Ratu tersenyum. "Benar, Yang Mulia."
Semua orang senang melihat Yeon Woo, kecuali Ibu Suri.
"Ayah dan Kakakmu sangat pintar dan cemerlang." ujar Raja. "Dan ayahmu memiliki putri yang cantik dan bijaksana sepertimu. Ini adalah sauatu anugerah bagi negara."
Raja berpaling pada Ibu Suri. "Ibu, mohon beri wejangan untuk Putri Mahkota."
Ibu Suri menatap Yeon Woo.
"Apa yang bisa dikatakan seorang wanita tua sepertiku?" ujar Ibu Suri. "Tolong mengabdilah pada Putra Mahkota dengan tulus."
"Hamba akan mengingat perkataan Ibu Suri di dalam hati." jawab Yeon Woo.
Min Hwa terus-menerus berbaring di ranjangnya dan menolak makan.
Ia menangis dan memohon pada ibu dan neneknya agar menjadikan Yeom suaminya.
Ibu Suri terus berpikir dan berpikir. Mendadak, ia menemukan ide.
Di sisi lain, Nok Young merasakan kalau akan terjadi hal yang buruk. Benar saja, malam itu ia dipanggil oleh Ibu Suri ke paviliunnya.
Yeon Woo ditempatkan di sebuah paviliun yang indah.
Sebelum meninggalkan Yeon Woo agar beristirahat, dayang memberikan sebuah saputangan.
"Anda akan membutuhkan saputangan ini." ujar dayang.
Setelah semua dayang pergi, Yeon Woo merasa kesepian di ruangan yang luas itu. Ia teringat ibunya dan menangis.
Yeon Woo melihat saputangan yang ditinggalkan dayangnya.
"Mungkin untuk inilah saputangan ini." gumam Yeon Woo.
Ia menangis keras dan menutupi wajahnya dengan saputangan.
Mendadak, dalam saputangan tertulis sesuatu.
"Apakah kau menangis karena meninggalkan keluargamu?" tanya Hwon dalam suratnya. "Jika ia, bukalah jendela dan lihat keluar."
Yeon Woo berjalan menuju jendela dan membukanya.
Di luar, Hwon sudah berdiri menunggu.
"Putra Mahkota!" seru Yeon Woo terkejut.
"Apa aku membuatmu terkejut?" tanya Hwon, tersenyum.
"Bukankah kau dilarang masuk ke sini?" tanya Yeon Woo.
"Aku menyogok seseorang." kata Hwon.
Yeon Woo kesal dan menutup jendela.
"Tunggu dulu, Yeon Woo!" teriak Hwon.
"Kembalilah!" ujar Yeon Woo dari balik jendela. "Putra Mahkota akan menjadi contoh bagi rakyat dan menjadi pondasi..."
Tidak ada suara lagi dari luar.
Yeon Woo mengintip dan membuka jendela. Hwon sudah tidak ada disana.
Dengan kecewa, Yeon Woo berlari keluar.
Yeon Woo snagat terkejut karena di luar sudah ada dua buah kursi. Para dayang dan kasim juga ada disana.
"Apa kau sudah selesai menangis?" tanya Hwon. "Aku mendapat izin khusus dari Yang Mulia. Jadi jangan khawatir."
"Karena malam ini kita tidak bisa tidur, lebih baik kita nikmati saja." kata Hwon seraya mempersilahkan Yeon Woo duduk.
Hwon mengulurkan tangannya dan disambut oleh Yeon Woo dengan malu-malu.
Hwon dan Yeon Woo duduk.
"Ini pertunjukakn dadakan." bisik Hwon. "Tolong kelihatan senang saja ya walau pertunjukkannya jelek."
Yeon Woo tersenyum.
Kasim Hyeon Sun memperagakan pertunjukkan boneka.
Hwon senang melihat Yeon Woo tertawa.
Di sisi lain, Ibu Suri memerintahkan Nok Young untuk melenyapkan Yeon Woo.
"Tidak mungkin membunuh atau meracuninya." ujar Ibu Suri. "Hanya kau yang bisa mencelakainya dari jarak jauh."
Nok Young terkejut. "Tugasku adalah berdoa untuk kesejahteraan anggota keluarga." katanya. "Sekarang ia sudah menjadi bagian keluarga kerajaan."
Karena Nok Young menolak, Ibu Suri mengancamnya. Jika Nok Young tidak membunuh Yeon Woo, maka ia akan menghancurkan Balai Samawi.
"Gunakan sihir hitammu dan bunuh gadis itu, Heo Yeon Woo." paksa Ibu Suri.
"Orang itu adalah aku, Ari." pikir Nok Young dalam hati, berdoa di Balai Samawi. "Orang yang menyebabkan kematian anak itu adalah aku. Tolong katakan padaku, Ari, apa yang harus kulakukan. Anak itu atau Balai Samawi?"
Nok Young mendapatkan jawaban yang diinginkannya, yakni shaman.
"Walaupun berada di dekat matahari akan menimbulkan bencana, tapi sudah menjadi takdirnya untuk berada disisi matahari dan melindunginya." kata-kata Ari terus ternging di telinga Nok Young.
"Jadi, apakah aku harus membunuh Putri Mahkota?" gumam Nok Young.

Bersambung.....


Sinopsis The Moon That Embraces The Sun episode 5

Sinopsis The Moon Embraces The Sun Episode 5
Hari itu, Yeon Woo mulai diajari mengenai tata krama di istana sebagai Putri Mahkota. Ia kelihatan cukup kesulitan.
Ia harus menunduk memberi hormat tanpa membuat lilin di depannya bergerak.
Dari luar paviliun Yeon Woo, Hwon berdiri dan menyapa secara tidak langsung.
"Apakah tidurmu nyenyak?" tanya Hwon dalam hati. "Aku yakin pelajaranmu mulai hari ini akan sangat sulit."
Mendadak terdengar suara pecahan piring. Hwon terkejut.
Di dalam, Yeon Woo sedang mencoba membawa piring dengan posisi yang 'aneh', yakni dengan kedua lengannya. Ia belajar seperti itu untuk menjaga posisi tubuhnya saat berjalan.
Piring kesekian akhirnya jatuh dan pecah juga. Yeon Woo tersenyum.
Saat sedang beristirahat, dayang mengantarkan surat untuk Yeon Woo dari Hwon.
Yeon Woo melihat surat itu dengan ekspresi sangat senang.
"Istana dikawal dengan sangat ketat, jadi aku belum bisa menemuimu saat ini." ujar Hwon. "Tapi aku akan menunggu. Aku akan menunggu sampai hari dimana kau menemui sebagai Putri Mahkota."
Malam itu, Nok Young berada di Balai Samawi. Ibu Suri datang berkunjung.
"Apakah semuanya sudah siap?" tanya Ibu Suri, seraya memberi isyarat pada dayangnya untuk memberikan sesuatu pada Nok Young. "Ini adalah dokumen mengenai karakter kelahiran anak itu dan pakaian yang pernah digunakannya. Cepatlah mulai."
Nok Young memulai upacaranya untuk mengguna-guna Yeon Woo.
Di sisi lain, Yeon Woo saat itu sedang menyiapkan sebuah surat. Setelah selesai dengan suratnya, ia meniup lilin dan berbaring di ranjangnya.
Saat sedang tidur, asap hitam kiriman Nok Young masuk ke kamar Yeon Woo dan mencekik lehernya. Yeon Woo ingin berteriak, namun ia tak mampu melakukannya.
Yeon Woo mencoba merangkak ke luar kamar untuk meminta bantuan. Namun sayang usahanya sia-sia. Sebelum mencapai pintu, Yeon Woo sudah jatuh pingsan.
"Apakah sudah selesai?" tanya Ibu Suri.
"Sudah." jawab Nok Young datar.
"Lalu kapan aku bisa membuat pengumuman?" tanya Ibu Suri lagi.
'Itu diluar kemampuanku." jawab Nok Young,
"Bukankah kau bilang ini akan jadi fatal baginya?" tanya tuntut Ibu Suri.
"Jangan cemas." ujar Nok Young. "Ia akan sakit selama beberapa saat dan penyakitnya tidak akan bisa diidentifkasi. Setelah itu, ia akan mati secara alami."
Ibu Suri tersenyum sinis. "Itu lebih baik agar tidak menimbulkan kecurigaan." katanya jahat. "Namun jika ia tidak juga mati, maka kau harus langsung membunuhnya."
Ibu Suri menoleh sekilas ke arah kiri, kemudian berjalan dan membuka pintu.
Disana, berdirilah Min Hwa dengan wajah ketakutan. Ia telah mendengar semuanya.
"Apa kau takut?" tanya Ibu Suri pada Min Hwa. "Semuanya sudah berakhir, jadi kau bisa tenang. Jangan cemas. Di masa depan, kau bisa memperoleh apa yang kau inginkan."
Ibu Suri ingin mengkambinghitamkan Min Hwa. Dengan menggunakan alasan bahwa Min Hwa ingin menikah dengan Yeom, maka Ibu Suri membunuh Yeon Woo.
Malam itu, dayang menemukan Yeon Woo terkapar di lantai. Ia bergegas menyuruh anak buahnya memanggi tabib.
Beberapa hari telah berlalu. Yeon Woo diketahui menderita penyakit aneh dan tidak diketahui penyebabnya.
"Kami menyarankan agar Yang Mulia mengeluarkan Putri Mahkota dari istana." ujar salah seorang Pejabat. "Ini sudah beberapa hari sejak gejalanya muncul dan belum ada tanda-tanda kesembuhan. Ini bukan penyakit biasa."
Namun Raja tidak setuju. "Membiarkannya tinggal di istana untuk mendapat perawatan dari tabib adalah cara yang paling baik." katanya.
"Membiarkan orang yang sakit tetap tinggal di istana bukalah tindakan bijaksana!" seru pejabat yang lain. "Bagaimana jika ada anggota kerajaan yang tertular penyakitnya?"
Pro dan kontra terus terjadi.
Dae Hyeong turun untuk bicara. Ia mengatakan bahwa tidak seharusnya seorang Putri Mahkota yang nantinya akan menjadi Ratu menderita suatu penyakit. Ia menyarankan pada Raja agar menghukum seluruh anggota keluarga Heo, yang menurutnya berani menyembunyikan penyakit yang diderita Yeon Woo.
Keadaan Yeon Woo tak juga membaik.
Seorang tabib istana masuk dan memerintahkan perawat agar membawa Yeon Woo keluar istana.
Hwon sangat terpukul mengetahui keadaan Yeon Woo.
Ia berjalan mendekati paviliun Yeon Woo, namun para pengawal melarangnya masuk.
Mata Hwon merah karena terlalu banyak menangis.
"Kalian tidak mau minggir?" tanya Hwon pada pengawal. "Dia adalah Putri Mahkotaku! Siapa yang berani memulangkannya tanpa seizinku?! Minggir!"
Para pengawal hanya menunduk diam.
Kasim Hyeon Sun hanya bisa menangis melihat Hwon.
"Minggir!" seru Hwon, hendak menerobos masuk.
Tidak lama kemudian, Yeon Woo dipapah keluar oleh para perawat istana.
Hwon menangis melihatnya.
"Yang Mulia..." gumam Yeon Woo.
"Yeon Woo..." Hwon menangis keras sambil terus menyebut nama Yeon Woo. "Yeon Woo!"
"Dia adalah Putri Mahkotaku!" teriak Hwon. "Minggir kalian! Minggir! Yeon Woo!"
Perlahan, Yeon Woo dibawa pergi diiringi tangisan dan teriakan Hwon.
Ibu Suri menatap kejadian itu dari jauh. Ia teringat perkataan Dae Hyeong padanya beberapa waktu yang lalu.
Dengan kejadian ini, kekuasaan di istana menjadi berbalik.
Dae Hyeong meminta Ibu Suri berhati-hati pada Putra Mahkota. Putra Mahkota bukannya tidak mengerti politik. Hanya penampilan luarnya saja yang terlihat naif, tapi suatu hari nanti Joseon akan menjadi miliknya. Ditambah lagi, di sisi Putra Mahkota ada Heo Yeom dan ia sudah berhasil mengendalikan akademi.
Ibu Suri menghampiri Hwon.
"Putra Mahkota." panggilnya.
Hwon menoleh. "Nenek..."
Ibu Suri memulai rencananya untuk mendekati Hwon.
"Hatimu pasti merasa sakit, Putra Mahkota." ujar Ibu Suri. "Mulai saat ini, lupakan gadis itu."
Hwon mendongak kesal. "Dia adalah Putri Mahkota cucumu." katanya. "Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya begitu saja?"
"Kau harus melupakan gadis itu agar kondisi kerajaan menjadi stabil." ujar Ibu Suri.
"Nenek!"
"Jangan lakukan apapun dan turuti perintah istana." kata Ibu Suri kejam.
"Perintah?!" seru Hwon marah. Hwon sadar bahwa berlebihan, maka ia menurunkan nada suaranya. "Perintah apa?!"
"Putra Mahkota, sejak kau berhasil mengendalikan akademi, apa yang kau peroleh?" tanya Ibu Suri. "Kau tidak memperoleh apapun, bukan? Jika Yang Mulia dan Putra Mahkota melepaskannya, ia akan memperoleh kehidupan yang damai dan bahagia. Jika ia tidak dipilih menjadi Putri Mahkota, ia tidak akan mendapat masalah apapun dan tidak akan terkena penyakit. Biarkan ia dirawat oleh ibunya, ia akan merasa lebih nyaman. Dengan reaksimu yang seperti ini, siapa yang akan bahagia melihatnya? Jika gadis itu menderita, kaulah penyebabnya, Putra Mahkota. Jika sayap kakaknya terikat, kaulah penyebabnya, Putra Mahkota. Dan jika reputasi Yang Mulia rusak, kaulah penyebabnya, Putra Mahkota. Jika keluarga pejabat Heo hancur, kaulah penyebabnya, Putra Mahkota."
Hwon menunduk diam dengan ancaman halus Ibu Suri.
"Jangan biarkan orang lain menderita atau terluka." lanjut Ibu Suri.
Hwon mengepalkan tangannya erat.
"Jadi, jangan lakukan apapun dan duduk yang manis." ujar Ibu Suri. "Dengan begitu, tidak akan ada seorangpun yang terluka."
Hwon meneteskan air mata.
Keluarga Heo memanggil tabib untuk memeriksakan putrinya. Namun usaha mereka sia-sia. Tabib tersebut tidak tahu penyakit apa yang sedang diderita Yeon Woo.
"Tidak ada yang salah dengan organ dalamnya." ujar Tabib. "Kesehatannya baik-baik saja. Tapi gejalanya kelihatan aneh."
Mendadak, Yeon Woo seperti tercekik sesuatu dan kesulitan bernafas.
Ibunya langsung panik. "Tolong selamatkan putriku, Tabib!" tangisnya. "Jika kau bisa menyelamatkannya, aku akan melakukan apapun!"
Ibu Yeon Woo menangis histeris dan memohon-mohon pada tabib agar menyelamatkan putrinya. Setelah itu, ia jatuh pingsan.
Walaupun terlihat tenang, namun Young Jae sebenarnya sangat cemas.
Ia berjalan keluar dan menemukan Nok Younga ada disana.
"Siapa kau?" tanya Young Jae.
"Aku adalah Shaman dari Balai Samawi, Jang Nok Young." ujar Nok Young memperkenalkan diri.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Aura istimewamu yang membimbingku kemari." jawab Nok Young. "Aku datang tanpa sepengetahuan siapapun, jadi jangan khawatir. Bolehkah aku melihat putrimu?"
Young Jae mengajak Nok Young masuk ke kamar Yeon Woo.
"Yang diderita Nona adalah penyakit mistis." ujar Nok Young.
Mata Yeon Woo terbuka sedikit untuk melihat Nok Young.
Fraksi dibawah pinpinan Dae Hyeong dan Ibu Suri berpesta karena merasa menang.
Dae Hyeong merencanakan sesuatu untuk menghancurkan Heo Young Jae.
"Bagaimana jika Putri Mahkota sehat dan kembali?" tanya salah seorang pejabat.
"Ia tidak akan kembali hidup-hidup kecuali sebagai roh atau bangkit dari kubur." jawab Dae Hyeong.
Dari luar, Bo Kyung mendengar semua percakapan mereka.
"Apa Ayah akan membunuh Yeon Woo?" tanya Bo Kyung ketika ayahnya keluar dari ruangan.
"Apa kau takut pada ayahmu?" tanya Dae Hyeong. "Atau merasa kasihan pada anak itu? Anak yang kau tanyakan itu.... ia akan mati jika waktunya tiba. Tapi tentu saja waktunya sudah ditentukan sesuai dengan rencana kita."
Bo Kyung hanya diam, menatap ayahnya dengan takut.
Dae Hyeong bercerita pada Bo Kyung bahwa dulu ia pernah direndahkan. Karena itulah ia berusaha untuk naik hingga ia bisa menjadi seperti sekarang ini. Ia memerintahkan Bo Kyung agar tidak memiliki rasa kasihan pada orang lain.
"Ini adalah pengaruh sihir." kata Nok Young.
Mulanya Young Jae tidak percaya, namun ia tidak bisa melakukan apapun. Penyakit putrinya memang aneh.
"Aku tidak tahu kenapa langit memilih putrimu." ujar Nok Young. "Mungkin langit marah karena ia menolak untuk menerimanya. Karena itulah ia jatuh sakit. Lalu bagaimana keputusanmu? Apakah kau mau menerima jimat?"
"Adakah cara untuk mematahkan sihir yang mengenai putriku?" tanya Young Jae.
"Ada satu solusi." ujar Nok Young. "Namun harus dibayar dengan kematian."
"Aku bersedia menyerahkan nyawaku." ujar Young Jae.
"Nona harus mengorbankan nyawanya sendiri." jawab Nok Young.
Young Jae terdiam.
Para pejabat kerajaan meminta petisi untuk menunjuk Putri Mahkota baru.
"Yoon Dae Hyeong!" seru Hwon marah seraya menggebrak meja.
Hwon berniat pergi menemui Raja, namun kasim memintanya untuk tenang.
Hwon kembali duduk, mencoba menenangkan diri.
"Aku sangat tidak berguna." keluhnya pada diri sendiri. "Putri Mahkota dipulangkan ke rumahnya. Guru Heo dilarang masuk ke istana hanya karena salah satu anggota keluarganya sakit. Pada saat-saat seperti ini, bahkan Kak Yang Myeong juga tidak ada. Di istana ini, aku tidak lagi punya siapapun di sisiku."
Mendadak Hwon terdiam, teringat bahwa ia masih memiliki seseorang.
Woon sedang berlatih bertarung dengan para pengawal. Teman-temannya kagum melihat keahlian Woon dalam memainkan pedang. Ia sungguh tidak ada tandingannya.
Hwon datang ke tempat Woon.
Dengan alasan karena permainan sepak bola waktu itu, ia mencari Woon.
"Kau pencetak gol terbanyak saat itu kan?" tanya Hwon pada salah seorang pengawal. Sengaja salah orang.
"Bukan." jawab pengawal itu. "Aku hanya dipenuhi ambisi untuk menang namun kemampuanku masih kurang."
"Lalu, apakah orang itu?" tanya Hwon, menunjuk orang lain.
Semua pengawal melirik ke arah Woon.
"Dia adalah Kim Je Woon." ujar para pengawal bersamaan.
Hwon kemudian menyuruh Woon dan salah seorang pengawal agar ikut dengannya.
Para pengawal yang lain hanya melongo menatap kepergian mereka.
"Bukankah pertandingan itu sudah lama?" tanya salah seorang pengawal dengan cemas.
"Apa mereka akan dikeluarkan karena masalah itu?" tanya pengawal yang lain waswas.
Malam itu, Yeon Woo tertidur namun tak nyenyak. Ia masih merintih kesakitan.
"Yeon Woo..." Samar-samar Yeon Woo mendengar suara Hwon memanggil. "Yeon Woo..."
Yeon Woo membuka matanya dan melihat Hwon di sampingnya.
"Apa kau mengenaliku?" tanya Hwon.
Yeon Woo hanya diam.
"Tidak apa-apa." ujar Hwon sedih. "Asalkan aku tetap bisa mengenalimu. Tidak apa-apa..."
Yeon Woo menutup matanya lagi.
Hwon terlihat cemas dan menyentuh lengan Yeon Woo. "Yeon Woo..." panggilnya.
Yeon membuka matanya lagi. "Apakah kau nyata?"
"Apa maksudmu?"
"Kau bukan khayalan?" tanya Yeon Woo. "Apa kau benar-benar..."
Hwon menunduk sedih. "Ini bukan khayalan. Aku datang untuk melihatmu."
Yeon Woo dan Hwon tersenyum, namun meneteskan air mata.
"Aku bodoh, bukan?" tanya Hwon.
Hwon mengeluarkan tusuk kundai dan meletakkannya di tangan Yeon Woo.
"Apa ini?" tanya Yeon Woo.
"Ini adalah 'Bulan yang memeluk matahari'." jawab Hwon. "Jika Raja adalah Matahari, maka Ratu adalah Bulan. Ini adalah kundai phoenix yang melambangkan bulan putih yang memeluk matahari merah. Karena itulah aku memberinya nama 'Bulan yang memeluk matahari'."
Yeon Woo menatap kundai pemberian Hwon.
"Satu-satunya Putri Mahkota di hatiku adalah kau, Yeon Woo." ujar Hwon. "Jadi cepatlah sembuh dan kembali ke sisiku."
Yeon Woo tersenyum.
"Putra Mahkota, aku sangat minta maaf." kata Yeon Woo lemah. "Hari pertama aku bertemu denganmu, aku salah menyebutmu pencuri. Maafkan aku. Aku sangat kurang ajar dan bersikap tidak hormat padamu. Maafkan aku."
Hwon tersenyum.
"Semua ini adalah salahku." lanjut Yeon Woo. "Aku sama sekali tidak menyalahkanmu. Jadi, apapun yang terjadi, mohon jangan salahkan dirimu sendiri."
"Seorang pria sejati tidak pernah melawan langit dan memendam dendam pada manusia." ujar Hwon, mengatakan perkataan yang dulu pernah dituliskan Yeon Woo dalam suratnya.
Yeon Woo tersenyum, sama halnya dengan Hwon.
"Putra Mahkota..." panggil Yeon Woo. "Aku... setelah bertemu denganmu, aku sangat bahagia."
Mendengat itu, Hwon ingin menangis. "Mulai saat ini, kau akan lebih bahagia." katanya. "Jangan katakan hal seperti itu."
Di luar, Woon berbincang dengan Yeom.
Rupanya Putra Mahkota memanggil Woon untuk mengawalnya ke rumah Yeon Woo.
Yeom heran kenapa Woon mau mengantar Hwon. "Ini tidak sepertimu." katanya.
Diam-diam, Seol mengintip mereka. Yeom dan Woon tersenyum.
"Anak itu mirip sepertimu ketika masih kecil." ujar Yeom. "Ada satu sisi pada dirinya yang menyukai pedang dan berpedang. Aku bisa merasakan dirimu pada dirinya."
Woon hanya tersenyum.
Woon mengantar Hwon pulang.
Dalam perjalanan, Hwon mengajak Woon berbincang.
"Namamu Kim Je Woon, bukan?" tanya Hwon. "Guru Heo dan Kak Yang Myeong memanggilmu Woon?"
"Benar." ujar Woon.
"Bolehkah aku memanggilmu Woon juga?" tanya Hwon.
"Terima kasih, Yang Mulia." ujar Woon seraya menunduk berterima kasih.
Hwon tersenyum ."Woon, terima kasih." katanya. "Aku selalu ingin melihat tempat dimana Putri Mahkota dilahirkan dan hidup. Putri Mahkota sangat menderita saat ini, tapi aku tidak bisa melakukan apapun untuknya."
"Putra Mahkota..."
"Menjadi Putra Mahkota... Karena aku adalah seorang Putra Mahkota..." Hwon tak kuasa menahan air matanya. "Aku sangat tidak berguna."
Woon merasa iba melihat Hwon.
Yang Myeong masih tidak mengetahui apa yang terjadi pada Yeon Woo. Dengan tenang, ia berjalan-jalan di kota.
Di kota, Yang Myeong malah adu gulat dengan rakyat setempat.
Di tengah pertandingan, ia teringat Yeon Woo. Ia diam dan membiarkan dirinya dipukuli habis-habisan.
Seusai adu gulat, Yang Myeong makan di kedai. Disana, ia mendengar percakapan rakyat yang mengeluh karena seseorang daro keluarga Yoon akan menjadi Putri Mahkota.
"Putri Mahkota yang sebenarnya dipaksa keluar dari istana karena terserang penyakit." ujar salah seorang pria. "Dia sudah tidak sadar selama dua hari. Ia hanya menunggu mati."
Yang Myeong terkejut mendengar kabar tersebut.
"Apa maksudmu?!" seru Yang Myeong seraya menarik baju pria itu. "Kau bilang Putri Mahkota akan mati?! APA MAKSUDMU?!"
Setelah mendengar berita tersebut, Yang Myeong langsung pergi ke Ibu Kota.
Young Jae memerintahkan Yeom menyingkir dari Ibu Kota.
"Aku memerintahkanmu untuk pergi ke rumah pamanmu selama beberapa waktu untuk menghindari tularan penyakit." kata Young Jae.
"Ayah..."
"Kau adalah putra sulung keluarga ini sekaligus tangan kanan Putra Mahkota." lanjut Young Jae.
"Yeon Woo sedang berada di jurang kematian." protes Yeom. "Bagaimana mungkin kau menyuruhku pergi pada saat-saat seperti ini?"
"Pergilah."
"Aku tidak bisa." tolak Yeom. "Paling tidak, aku ingin tahu penyakit macam apa yang diderita Yeon Woo!"
"Semua tabib saja tidak tahu, bagaimana aku bisa tahu!" seru Young Jae.
"Aku sudah mencari di buku dan aku sudah menemukannya." kata Yeom.
"Ingat kalau kau adalah mentor Putra Mahkota!"
"Melindungi adikku saja aku tidak bisa, bagaimana mungkin aku membantu Putra Mahkota?" seru Yeom.
"Untuk seseorang yang sudah membaca ratusan buku, bagaimana bisa kau menjadi seseorang yang berpikiran pendek?!" seru Young Jae, meledak marah. "Siapa yang akan membantu Putra Mahkota dimasa depan? Kau! Kaulah orang yang akan membantunya! Inilah satu-satunya cara agar kau dan Yeon Woo bisa membayar kebaikan Raja dan aku sebagai ayah kalian. Pergilah."
Yeom sangat terpukul.
Yeom dipaksa pergi dari Ibu Kota.
Seol mengantar kepergiannya diam-diam, namun Yeom melihatnya.
"Seol, aku butuh bantuanmu." kata Yeom. "Karena Yeon Woo sedang tidur, aku tidak ingin membangunkannya. Jika Yeon Woo ingin bertemu denganku, tulislah surat untukku... Tapi kau tidak bisa menulis..." Ia berpikir sejenak. "Kirim saja seseorang untuk memberitahu aku..."
"Aku bisa menulis." potong Seol. "Nona yang mengajariku."
Yeom tersenyum. "Dengan adanya kau disisi Yeon Woo, aku merasa lega." ujarnya. "Ketika aku tidak ada, kau harus menjaga Yeon Woo."
Seol menangis.
Yeom mengusap rambut Seol. "Aku bergantung padamu, Seol."
Seol mengangguk.
Yeom berjalan pergi.
Seol berjalan masuk ke dalam rumah. Young Jae sedang bicara pada seseorang.
"Seol, kau akan pergi dengan pria ini." kata Young Jae. "Dia akan mengantarmu pada majikanmu yang baru."
"Tuan!" seru Seol terkejut.
"Dia adalah pelayan kesayangan putriku." ujar Young Jae pada pria itu. "Jangan biarkan ia bekerja terlalu keras."
Seol menangis dan berlutut di hadapan Young Jae. "Apa aku melakukan kesalahan, Tuan? Aku akan berubah. Tolong jangan jual aku pada orang lain. Aku tidak akan makan banyak. Tolong izinkan aku berada disisi nona. Aku berjanji pada Tuan Muda untuk menjaga nona, jadi tolong jangan..."
Young Jae menyentuh tangan Seol.
"Jika nona sudah sembuh, aku akan menjemputmu lagi." kata Young Jae. "Untuk saat ini, dengarkan permintaanku."
Di dalam kamar, Yeon Woo mulai kesulitan bernafas lagi. Ibunya sangat cemas dan memeluk putrinya.
Young Jae masuk ke dalam kamar dengan panik.
Yeon Woo memuntahkan darah.
"Jika ia masih hidup, tidak ada cara untuk mengeluarkan roh." Young Jae teringat perkataan Nok Young.
"Kau menyuruhku membunuh putriku sendiri?" tanya Young Jae.
"Satu-satunya cara untuk mengeluarkan roh adalah setelah ia mati agar rasa sakitnya berkurang.." jawab Nok Young.
Young Jae akhirnya membuat keputusan.
"Aku ingin menanyakan satu hal padamu." ujar Young Jae pada Nok Young. "Jika ia menggunakan obat itu, apakah rasa sakitnya akan berkurang?"
"Ya." jawab Nok Young.
"Benarkah roh itu bisa dikeluarkan dan membuat Yeon Woo tenang?" tanya Young Jae lagi.
"Aku bisa menjamin." jawab Nok Young.
"Tuan Heo, maafkan aku." ujar Nok Young dalam hati setelah berjalan pergi. "Aku akan menggunakan hidupku untuk menebus dosa ini."
Pagi itu, Young Jae meramukan obat untuk putrinya.
Yeon Woo tahu kalau hidupnya tidak akan lama lagi. Ia berusaha bangkit dari tidurnya untuk menulis surat.
"Putra Mahkota, aku menggunakan tenagaku yang tersisa untuk menulis surat ini."
Hwon terbangun dari tidurnya. Ia melihat Yeon Woo sedang duduk di dekat jendela sambil melihat pot tanaman yang ia berikan untuk Hwon.
Hwon tersenyum melihat Yeon Woo. "Apa kau sudah sembuh?" tanyanya.
"Apakah kau tahu kenapa aku memberikan tanaman ini padamu, Putra Mahkota?" tanya Yeon Woo. "Sebenarnya, aku punya maksud rahasia. Aku berharap kau penasaran akan tumbuh menjadi apa tanaman ini. Jika kau penasaran, maka kau akan mengirim surat padaku."
"Itu artinya, kau selalu menunggu surat dariku?" tanya Hwon.
Yeon Woo mengangguk.
"Seharusnya kau mengatakan itu dari dulu." protes Hwon. "Aku selalu merasa kau menghindariku."
"Putra Mahkota..." panggil Yeon Woo seraya bangkit dan memberi hormat pada Hwon. "Semoga kau selalu sehat dan damai."
Hwon terbangun. Rupanya itu hanya mimpi.
Yeon Woo selesai menulis surat. Dengan lemah, ia merangkak menuju peti di kamarnya dan menyimpan surat itu disana.
Yeon Woo kembali memejamkan mata dan tidur.
Tidak lama kemudian, Young Jae masuk ke kamar Yeon Woo.
"Yeon Woo, bangun." ujarnya. "Ini waktunya untuk minum obat."
Yeon membuka matanya.
"Yeon Woo, aku ingin minta maaf." kata Young Jae. "Banyak sekali hal yang membuatku merasa menyesal. Jika tahu akan seperti ini, seharusnya aku mengizinkanmu belajar apapun yang kau mau. Seharusnya aku membiarkanmu melakukan apapun yang kau inginkan."
Young Jae tak kuasa menahan air matanya.
"Ayah, cepat berikan obat itu padaku." ujar Yeon Woo lemah.
Young Jae terkejut mendengar permintaan putrinya.
"Setelah minum obat itu, aku tidak akan jatuh sakit lagi." ujar Yeon Woo.
Tangan Young Jae bergetar. Perlahan, ia meminumkan obat tersebut pada Yeon Woo.
"Obat ini pahit, bukan?" tanya Young Jae, menangis.
"Sangat pahit."
"Ayah akan memelukmu sampai kau tertidur." tangis Young Jae, memeluk erat putrinya.
"Pelukan ayah seperti pelukan kakak." gumam Yeon Woo.
Young Jae merasakan kundai phoenix di dada Yeon Woo.
"Aku ingin tidur bersama benda ini." gumam Yeon Woo. "Tolong biarkan aku memilikinya."
"Yeon Woo..."
"Ayah, aku merasakan mataku berat." ujar Yeon Woo. "Aku akan tidur sekarang."
Yeon Woo menutup matanya.
Young Jae menangis keras. "Maafkan aku, Yeon Woo!"
Yeon Woo meninggal dunia.
"Yeon Woo!" teriak Young Jae histeris.
Mendengar teriakan suaminya, ibu Yeon Woo bergegas menuju kamar. Disana, ia sudah menemukan putri kesayangannya meninggal.
Hwon sangat terpukul mendengar berita kematian Yeon Woo. Ia berusaha keluar, namun pengawal langsung menangkap dan membawanya kembali ke kamar.
"Lepaskan aku!" teriak Hwon. "Aku harus mengatakan sesuatu pada Putri Mahkota! Lepaskan aku! Yeon Woo! Yeon Woo!"
Hwon terus menjerit-jerit dan menangis histeris
 
Bersambung.....

Sinopsis The Moon That Embraces The Sun episode 6

Sinopsis The Moon That Embraces The Sun episode 6
Keluarga Heo mengadakan upacara pemakaman di gunung. Semua orang menangis.
Saat itulah Yang Myeong akhirnya tiba.
Yang Myeong hanya bisa melihat peti mati Yeon Woo dengan ekspresi terpukul. Ia berlutut lemah di tanah dan menangis.
Dae Hyeong kembali ke rumah.
"Tidak lama lagi kau akan segera masuk ke istana." ujar Dae Hyeong pada Bo Kyung. "Apa kau sudah menyiapkan mental?"
"Istana?" tanya Ibu Bo Kyung. "Maksudmu, Bo Kyung akan menjadi Putri Mahkota?"
"Apa dia sudah mati?" tanya Bo Kyung. "Apa kau membunuhnya?"
"Dia sudah meninggalkan dunia ini." jawab Dae Hyeong.
Bo Kyung masuk ke kamarnya dan mengambil gelang milik Yeon Woo yang dulu ia temukan.
"Kau ingin memenangkan hati Putra Mahkota, bukan?" Bo Kyung teringat ayahnya pernah bertanya. "Jadi mulai saat ini, lupakan semua rasa bersalah dan belas kasihanmu pada Yeon Woo. Ingatlah kemarahan dan rasa terhina ketika sesuatu dicuri darimu."
Bo Kyung menggenggam erat gelang itu.
Hwon masih terus menangis mengingat Yeon Woo.
"Semua ini salahku, bukan salahmu." Ia teringat Yeon Woo pernah berkata. "Apapun yang terjadi, aku tidak akan menyalahkanmu."
Mendadak terdengar langkah kaki. Yang Myeong berjalan mendekati Hwon.
"Kakak, bagaimana kabar Guru Heo?" tanya Hwon. "Aku berharap melihat Putri Mahkota untuk terakhir kalinya. Apa kau melihatnya, Kak?"
"Kenapa kau ingin tahu?" tanya Yang Myeong tajam. Cahaya kemarahan terpancar di matanya. "Apa kau tidak sadar apa yang telah kau lakukan, Putra Mahkota? Beraninya kau berharap untuk melihatnya!"
"Kakak..."
"Ketika ia diusir dari istana seperti seorang penjahat, apa yang kau lakukan?" tanya Yang Myeong. "Ketika ia menderita karena sakitnya, apa yang kau lakukan?"
"Tolong berhenti." ujar Hwon lemah.
"Ketika ia dikubur di tanah yang dingin, apa yang kau lakukan?" yang Myeong terus bicara sambil berlinang air mata. "Ketika orang tua dan kakaknya menangis, apa yang kau lakukan?"
"Kakak!" teriak Hwon.
"Bukankah kau yang memiliki segalanya, Putra Mahkota?!" teriak Yang Myeong. "Kasih sayang Yang Mulia. Hatiku yang tulus padamu sebagai kakak. Tidakkah kita sangat dekat seperti saudara kandung? Kau memiliki segalanya. Aku hanya menginginkan satu hal, tapi aku tetap saja aku tidak bisa memilikinya."
"Dia adalah satu-satunya bagiku." tangis Yang Myeong. "Dialah satu-satunya yang kuinginkan. Paling tidak satu hal. Aku hanya ingin satu hal. Tapi kau tidak mau memberikannya untukku? Jika aku jadi kau, aku akan melindunginya dengan segala yang kumiliki walaupun aku harus mempertaruhkan hidupku."
Hwon sangat terpukul.
"Kau tidak melindunginya dengan baik." lanjut Yang Myeong.
Yang Myeong berjalan pergi.
"Di kehidupan selanjutnya, ia akan menjadi milikku." tekad Yang Myeong dalam hati. "Di kehidupan selanjutnya, akulah orang yang akan melindunginya."
Ibu Suri sangat senang dengan kematian Yeon Woo.
Nok Young meminta izin Ibu Suri agar ia bisa meninggalkan Balai Samawi selama beberapa lama.
"Aku telah menggunakan sihir untuk membunuh seseorang." ujar Nok Young menjelaskan. "Bagi kami ini adalah hal yang tabu. Dengan sihir ini, tubuh dan jiwaku terluka cukup parah. Aku ingin pergi selama beberapa waktu ke gunung untuk menstabilkan tubuh dan jiwaku."
"Kau akan kembali, bukan?" tanya Ibu Suri.
"Aku akan kembali." jawab Nok Young.
Malam itu, Nok Young dan Young Jae pergi ke makam Yeon Woo.
Young Jae menggali kembali makam tersebut.
Dari dalam peti, Yeon Woo membuka matanya. Ia mengedor-gedor peti karena kesulitan bernapas.
"Cepatlah! Matahari akan segera terbit!" seru Nok Young pada Young Jae.
Mendadak, seseorang datang dari belakang mereka.
Nok Young terkejut.
Rupanya orang itu adalah Seol.
Keadaan Seol sangat mengenaskan seperti habis dipukuli habis-habisan.
Yeon Woo membuka matanya dan terbangun dengan kaget.
Ia melihat seorang anak di sampingnya.
"Siapa kau?" tanya Yeon Woo.
"Aku Jan Shil." jawab anak itu.
"Jan Shil?" gumam Yeon Woo, berpikir.
Jan Shil langsung berlari keluar dan memanggil seseorang.
Seol masuk ke dalam kamar.
"Nona!" serunya lega. "Nona, kau sudah sadar?"
Yeon Woo hanya diam, memandang Seol dengan bingung.
Nok Young masuk ke dalam ruangan.
"Siapa kau?" tanya Yeon Woo padanya. Ia berpaling pada Seol. "Siapa kau?"
Nok Young dan Seol terkejut.
"Tempat apa ini?" tanya Yeon Woo lagi. "Dan... siapa aku?"
"Nona, kau adalah seorang shaman." ujar Nok Young pada Yeon Woo. "Kau pingsan ketika sedang melakukan upacara ritual. Kau baru saja bangun hari ini. Tapi karena sihirnya terlalu kuat, maka kau kehilangan ingatanmu. Mulai saat ini, aku akan menjadi pendampingmu..."
"Keluargaku." potong Yeon Woo. "Dimana keluargaku?"
"Aku tidak tahu." jawab Nok Young, berbohong. "Aku melihatmu berada di jalanan seorang diri. Kau memiliki aura cahaya yang luar biasa, jadi aku membawamu bersamaku."
"Apa aku dicampakkan?" tanya Yeon Woo. "Apa keluargaku membuangku karena aku memiliki kekuatan sihir?"
"Kau sudah menjadi seorang shaman, jadi lebih baik lupakan masa lalumu."
Yeon Woo menangis, kemudian mengangguk.
Di istana, Hwon berpapasan dengan Dae Hyeong.
"Anda pasti sangat khawatir mengenai kejadian yang menimpa akhir-akhir ini." ujar Dae Hyeong.
"Kekhwatiran apa?" tanya Hwon santai.
"Hamba bersalah karena tidak melakukan pemilihan Putri Mahkota dengan benar." jawab Dae Hyeong.
Hwon tersenyum. "Langitlah yang menentukan kelahiran, menjadi tua dan sakit." jawabnya. "Apa yang bisa dilakukan oleh manusia?"
"Hamba tidak punya tempat untuk pergi."
Hwon tertawa keras. "Di dunia bagian mana seorang Yoon Dae Hyeong tidak diterima?" tanyanya sinis. "Jika seseorang merasa ingin mencari tempat yang pantas bagi dirinya sendiri, walaupun ia harus menjatuhkan seorang penunggang kuda ia pasti akan melakukannya."
Dae Hyeong hanya diam mendengar sindiran Hwon.
Young Jae sangat sedih dengan keadaan yang menimpa putrinya. Ia sangat merindukan Yeon Woo. Ia melihat seakan-akan Yeon Woo sedang berada di halaman dan membaca buku. Namun sayang semua itu hanyalah ilusi.
Yeom kembali ke rumah.
Young Jae berpesan padanya. "Walaupun Putra Mahkota berjarak ratusan mil darimu, janganlah lupa kalau kau adalah orang kepercayaan Putra Mahkota. Suatu saat nanti, kau akan mendampingi Putra Mahkota."
"Aku akan mengingat itu." ujar Yeom.
Di lain sisi, ibu Yeon Woo seperti orang stress mendekati gila. Ia menyuapi seorang gadis terus-menerus, yang ia kira adalah Yeon Woo.
"Yeon Woo sudah meninggal." kata Young Jae.
Ibu Yeon Woo langsung menangis keras. "Yeon Woo!"
Keesokkan harinya, Nok Young, Yeon Woo, Seol dan Jan Shil berniat pergi dengan menggunakan kapal.
Yeon Woo melihat Seol tajam. "Kenapa kau memanggilku Nona?" tanyanya.
Seol bingung menjawabnya. "Itu karena..."
"Itu karena kau adalah bulan." jawab Jan Shil polos.
"Karena kau mengabdi pada dewa yang agung, jadi orang-orang memanggilmu Nona." kata Nok Young memotong pembicaraan.
"Aku adalah seorang shaman, bukan?" gumam Yeon Woo.
Mendadak Seol menangis.
"Kau kenapa?" tanya Yeon Woo. "Jangan menangis."
Nok Young juga memandang Yeon Woo dari belakang dengan sedih. "Suatu saat nanti, apakah kau akan kembali ke posisimu yang semula atau tetap hidup menjadi shaman?" tanyanya dalam hati. "Itu adalah pilihanmu sendiri."
Bo Kyung didandani untuk menjalani upacara pernikahan sekaligus pengangkatannya sebagai Putri Mahkota.
Ia kelihatan sangat senang.
"Kau harus optimis." pesan ibunya pada Bo Kyung. "Jangan biarkan orang lain melihat kelemahanmu. Tidak ada yang boleh merebut posisimu."
Bo Kyung mengulangi setiap pesan yang diucapkan oleh ibunya.
Hwon menjalani upacara dengan setengah hati.
Di lain sisi, Min Hwa tidur di ranjangnya dengan wajah ketakutan dan tubuh gemetaran.
"Jangan khawatir, Putri." Min Hwa teringat ucapan ibu suri. "Sebentar lagi, kau akan memperoleh apa yang kau inginkan."
Menatap rintikan air hujan membuat Yang Myeong sedih. Ia terus mengingat Yeon Woo dalam benaknya.
Gerimis turun saat Hwon sedang menjalankan upacara pernikahan.
Hwon menatap tetesan air hujan dengan mata berkaca-kaca.
"Namamu adalah Yeon Woo. Apakah artinya dalah gerimis?" Hwon mengingat percakapannya dengan Yeon Woo tempo hari. "Itu juga bisa diartikan embun. Nama yang sangat indah.
Hwon tersenyum pahit.
Bo Kyung melihat Hwon. Ia tahu persis apa yang sedang dipikirkan oleh Hwon.
Beberapa tahun telah berlalu.
Hwon dewasa memandang tetesan air hujan terakhir yang jatuh membasahi bumi. Gerimis telah berhenti.
"Yang Mulia, apakah Anda mau teh hangat?" Kasim Hyeon Sun menawarkan teh dan berbagai macam pelayanan untuk Hwon.
Hwon menoleh. "Kenapa kau selalu saja cerewet?" tanyanya.
Hwon kemudian memerintahkan kasim untuk memanggil para menteri keluar untuk bermain golf.
Hwon memukul bola golf.
Seorang menteri bertepuk tangan dengan keceriaan dibuat-buat.
"Pukulan bagus!" seru si menteri. "Yang Mulia semakin hebat hari demi hari, menembus langit!"
Hwon tersenyum dan menjawab sinis, "Sanjungan menteri-lah yang menembus langit."
Si Menteri langsung diam.
Hwon hendak memukul bola golf lagi. Namun mendadak ia berhenti dan memegang dadanya.
Kelihatannya para menteri merasakan sesuatu.
Hwon bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja. Ia memukul bola, namun gagal masuk.
Hwon memerintahkan seorang menterinya untuk memukul bola dan ternyata masuk.
"Kau sangat hebat." puji Hwon. "Kau sangat sibuk dalam pekerjaanmu, bagaimana bisa kau bisa demikian hebat?" Itu adalah sindiran.
"Aku hanya beruntung." jawab Menteri. "Lubang disini sedikit lebih besar dibanding di tempat lain."
Hwon tertawa terbahak-bahak.
"Jadi, kau pasti tahu dimana tempat di istana ini yang lubangnya paling besar." kata Hwon santai.
"Bagaimana mungkin aku tahu." jawab si Menteri.
"Kalau begitu," ujar Hwon, ekspresinya langsung berubah tegas. "Aku akan mengajakmu kesana."
Hwon mengajak para menteri ke perpustakaan.
Disana, ia mengambil satu buah peti yang berdebu.
"Yang Mulia, tolong jangan lakukan ini." protes Menteri.
"Ratusan orang dipaksa melakukan kerja rodi." ujar Hwon, membaca sebuah perkamen. "Pakaian dan makanan sangat sulit. Sejak musim dingin bulan ke 12, kulit anjing digunakan untuk bertahan hidup. Jika tidak bisa membayar pajak, anak gadis akan dijadikan selir. Saat ini ia sudah memiliki 20 orang selir. Wah! Jauh lebih banyak dibanding Raja!"
Hwon membaca satu per satu perkamen tersebut. Perkamen-perkamen itu adalah laporan mengenai masalah yang diakibatkan oleh tindakan para menteri.
"Semua laporan ini bisa membuat orang yang membacanya menjadi sedih dan meneteskan air mata." ujar Hwon seraya memandang tajam pada para menterinya. "TAPI, kenapa tidak ada satupun yang jatuh ke tanganku!"
"Sebenarnya kami ingin menyerahkannya nanti." seorang menteri memberi alasan.
"Kalian tidak lihat tanggal berapa laporan itu dibuat!" seru Hwon. "Sudah beberapa bulan berlalu!"
"Laporan itu terlalu sepele..."
"Siapa kau hingga berhak memutuskan apakah laporan ini sepele atau tidak?!" tanya Hwon tajam. "Kau membuat penilaian itu tanpa melihat penderitaan rakyat! Sekarang kalian tahu! Ini adalah lubang terbesar di istana! Para pejabat dan politiknya yang menghalangi komunikasi antara aku dan rakyatku adalah lubang terbesar!"
Hwon berjalan pergi dengan kemarahan memuncak.
"Dia sudah sangat dewasa." komentar menteri.
"Aku dengar kabar kalau ia sakit." ujar menteri yang lain. "Tapi kelihatannya berita itu salah. Melihat kondisinya hari ini, ia kelihatan sangat sehat."
"Kurasa ia hanya menggunakan alasan sakit agar tidak perlu masuk ke kamar Ratu." komentar yang lain.
Dae Hyeong langsung menatap menteri itu dengan sinis.
"Itu bukan alasan." ujar menteri yang lain. "Walaupun ia bisa menutupi dengan baik, namun kelelahan dimatanya tidak bisa disembunyikan."
Para menteri kemudian merencanakan sesuatu yang jahat.
Karena Raja tidak juga mau melakukan hubungan suami-istri dengan Ratu, banyak pihak yang menyarankan agar Raja mencari selir. Hal ini tentu membuat Ibu Suri kesal.
"Petisi agar Raja mencari selir belum juga berakhir?" tanya Ibu Suri.
"Kami sudah berusaha keras agar hal ini tidak tersebar." ujar Dae Hyeong. "Jadi kabar ini belum mencapai istana. Namun cepat atau lambat, Raja pasti akan mendengar."
"Ini tidak boleh terjadi!" seru Ibu Suri. "Satu-satunya orang yang harus menghasilkan penerus Raja adalah Ratu."
"Namun ia terus-menerus menolak ke kamar Ratu dengan mengatakan bahwa ia sedang kurang sehat." ujar Dae Hyeong. "Jika terus seperti ini, Ratu tidak akan bisa menghasilkan penerus."
Dae Hyeong menyarankan pada Ibu Suri agar membiarkan Raja pergi keluar istana selama beberapa saat untuk memulihkan kesehatannya.
Sementara Raja pergi, Dae Hyeong-lah yang akan mengambil alih pekerjaan Raja.
Dae Hyeong menyarankan agar Raja beristirahat sementara waktu.
"Kau memang mencemaskan kesehatanku atau kau cemas apakah aku masih hidup atau sudah mati?" tanya Hwon tajam.
"Tolong jangan berkata seperti itu." kata Dae Hyeong.
"Kalau begitu, apakah kau mau pergi bersamaku?" tanya Hwon. Karena Dae Hyeong hanya diam, Hwon melanjutkan dengan sindiran. "Ah, aku lupa! Jika aku tidak ada, kaulah orang yang akan mengambil alih segalanya di istana. Ini adalah peluang yang bagus untuk mengetahui semua permasalahan negara. Karena itulah, aku lebih memilih tinggal di istana dan tidak pergi. Apakah ada kata-kataku yang salah, Menteri?"
Tidak lama kemudian, kasim masuk ke ruangan dan mengatakan kalau Ibu Suri ingin bertemu.
Hwon langsung mengeluh. "Ah, banyak sekali orang yang ingin bertemu denganku hari ini." ujarnya seraya memandang tajam pada Dae Hyeong. "Aku yakin nenek akan mengatakan hal yang sama denganmu."
Dalam perjalanan ke paviliun Ibu Suri, Hwon berpapasan dengan Ratunya. Hwon kelihatan sangat tidak suka.
Bo Kyung sangat senang melihat Hwon. "Anda datang, Yang Mulia." sapanya ramah.
Tanpa mengatakan apa-apa, Hwon berjalan pergi.
Bo Kyung menarik napas untuk meredakan emosinya, kemudian tersenyum lagi.
Sesuai perkiraan, Ibu Suri mengatakan hal yang sama dengan yang dikatakan Dae Hyeong.
Hwon menolak dengan alasan tidak bisa meninggalkan pekerjaan kenegaraannya dan kesehatannya cukup baik.
"Lalu kenapa kau belum juga memiliki penerus?" tanya Ibu Suri.
Hwon diam.
Bo Kyung meminta maaf. "Ini semua salahku." katanya. "Aku tidak bisa melayani Yang Mulia dengan baik."
"Kau wanita yang malang." ujar Ibu Suri.
Hwon terus menolak untuk pergi,
"Jika kau tidak menuruti keinginanku, maka aku takut kalau aku tidak punya pilihan lain." ancam bu Suri. "Dayang Park! Mulai saat ini, aku tidak mau makan apapun. Jika Yang Mulia tidak menghormati permintaan neneknya yang sudah tua, aku tidak akan mau hidup lagi."
Hwon hanya diam.
Ibu Suri (ibu Hwon) berusaha membujuk Hwon agar pergi, namun Hwon tetap menolak.
Bo Kyung berlutut di depan paviliun Ibu Suri.
"Tolong jangan marah seperti ini, Yang Mulia." seru Bo Kyung pada ibu Suri. "Semua ini adalah salahku karena aku tidak bisa melayani Yang Mulia dengan baik."
Bo Kyung terus berteriak dan menangis menyalahkan dirinya sendiri.
Hwon, yang mengetahui tindakan Bo Kyung dari kasim, langsung datang menghampiri.
"Bangun, Ratu." perintah Hwon. "Udara sangat dingin, jadi tolong bangunlah."
Bo Kyung menggeleng. "Aku akan tetap berlutut sampai Ibu Suri bersedia makan lagi." katanya.
"Aku akan meminta Ib uSuri mengakhiri semua ini." kata Hwon. "Aku tidak akan membiarkan beliau kelaparan. Jadi lebih baik kau bangun."
Akhirnya Bo Kyung bangkit. Ketika hendak bangkit, tidak sengaja ia hampir terjatuh.
Hwon menahan tubuhnya.

"Kau memiliki Ibu Suri di dalam istana dan ayahmu di luar istana." ujar Hwon pelan. "Kau sangat beruntung memiliki pendukung seperti itu."
Bo Kyung hendak melepaskan diri dari Hwon, namun Hwon mempererat pegangannya.
"Kau masih ingat apa yang pernah kukatakan saat pernikahan kita?" tanya Hwon. "Jika kau lupa, aku akan mengingatkan."
Hwon mendekatkan wajahnya ke telinga Bo Kyung. "Kau dan keluargamu mungkin akan mendapatkan apa yang kalian inginkan, tapi jangan harap kalian akan mendapatkan hatiku juga. Karena kalian tidak akan pernah mendapatkannya."
Bo Kyung meneteskan air mata.
Hwon berjalan pergi.
Bo Kyung masuk ke kamarnya dengan langkah terhentak-hentak karena marah. Seluruh tubuhnya gemetar.
"Apakah kau masih belum bisa melupakannya?" tanya Bo Kyung dalam hati. "Dia sudah lama mati. Ratu istana ini bukan dia, tapi aku!"
Dayang masuk dan mengatakan kalau Min Hwa datang.
Setelah Min Hwa masuk ke dalam ruangan, wajah Bo Kyung berubah drastis menjadi manis dan ramah.
Min Hwa datang karena diperintahkan ibunya untuk menghibur Bo Kyung.
"Kudengar kau memohon maaf." ujar Min Hwa.
"Aku tidak punya keyakinan dalam melayani Yang Mulia sehingga tidak bisa menghasilkan penerus." ujar Bo Kyung.
"Kurasa bukan karena tidak ada keyakinan." ujar Min Hwa polos. "Itu karena diantara kau dan kakak tidak ada cinta. Kakak tidak pernah ke ruanganmu karena kakak tidak menyukai..."
Bo Kyung langsung memotong ucapan Min Hwa dengan membicarakan hal lain.
Min Hwa pulang ke rumahnya.
Ia dan Yeom kini sudah menikah.
Min Hwa mengira Yeom sedang tidur di kamar, namun rupanya orang itu bukan Yeom melainkan Yang Myeong.
Min Hwa ngambek. Ia keluar dari kamar dan melempat sepatu Yang Myeong ke atas genteng.
"Kenapa setiap kemari, kau selalu membuat adikmu marah?" tanya Yeom.
"Dia menyebalkan." kata Yang Myeong. "Dia memaksamu menjadi suaminya. Ketika almarhum Raja sebelumnya masih hidup, ia ingin kau mendampingi Raja saat ini. Tapi kenapa mereka malah mencekal orang berbakat sepertimu? Aku marah pada almarhum Raja, Yang Mulia dan Putri Min Hwa."
"Jangan berkata seperti itu." ujar Yeom. "Putri adalah penyelamat keluargaku. Anggota keluargaku tidak dibunuh dan masih bisa hidup sempai sekarang adalah berkat Putri."
"Dia mengubur bakat dan ambisimu." ujar Yang Myeong kesal.
Yang Myeong dan Yeom keluar dari ruangan.
Setelah sadar sepatunya hilang, ia mengeluarkan sepatu cadangan dari balik jubahnya.
"Kesehatan Yang Mulia tidak juga membaik." kata Yeom.
Yang Myeong terlihat sedih. Ia kemudian menoleh melihat ke arah kamar Yeon Woo dulu.
"Jangan melihat lagi." ujar Yeom.
"Jika ia masih hidup, seperti apakah wajahnya?" tanya Yang Myeong. "Di dalam benakku, adikmu tetap berumur 13 tahun."
Yang Myeong berjalan seorang diri.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Yeon Woo kecil, ilusi Yang Myeong.
"Aku sedang memikirkanmu." jawab Yang Myeong.
"Kenapa kau tidak kembali saja ke istana?"
"Apa ia memintamu mengatakan ini padaku?" tanya Yang Myeong.
"Tidak." jawab Yeon Woo. "Aku hanya merasa kalau ia sedang menunggumu."
"Siapa yang menungguku?"
"Yang Mulia." jawab Yeon Woo.
"Setelah aku membuatnya terluka, kenapa ia masih mau menungguku?" tanya Yang Myeong.
"Ia menunggumu." ulang Yeon Woo.
"Semua yang kau bicarakan selalu tentang dia." protes Yang Myeong.
"Ia tidak bisa berbagi pikiran dengan orang lain disana." kata Yeon Woo sedih. "Ia pasti merasa kesepian."
"Bukankah ia memiliki Woon di sisinya?" tanya Yang Myeong.
"Pangeran Yang Myeong, tolong lindungi dia." pinta Yeon Woo. "Kuharap Pangeran Yang Myeong bisa melindunginya."
Yeon Woo menghilang.
Yang Myeong terdiam sejenak. Ia kemudian melihat tidak jauh dari tempatnya berdiri, ada kumpulan orang.
"Pangeran Yang Myeong!" seru seseorang.
Yang Myeong melarikan diri. Orang-orang itu mengejarnya.
Yang Myeong bersembunyi sehingga ia bisa lolos dari kejaran.
"Apa kau puas sekarang?" tanya Yang Myeong dalam hati. "Dengan cara inilah aku melindungi Yang Mulia."
Malam itu, lagi-lagi Hwon tidak bisa tidur nyenyak. Ia bermimpi buruk mengenai masa lalunya. Terngiang-ngiang semua perkataan Yeon Woo, Ibu Suri dan Yang Myeong. Ia merasa kalau kematian Yeon Woo adalah karena kesalahannya.
"Apakah mimpi yang sama?" tanya Woon ketika melihat Hwon terbangun.
Hwon mengajak Woon berbincang di luar.
"Woon, apa kau tahu kenapa halaman ini disebut Paviliun Bulan Tersembunyi?" tanya Hwon. "Ketika ayah pertama kali membangun tempat ini, bulan yang ada di kolam kelihatan indah, jadi ia ingin memiliki bulan itu selamanya. Jadi ketika bulan tidak muncul di langit, ia masih bisa melihat bulan. Itulah arti sebenarnya dari Paviliun Bulan Tersembunyi."
"Hamba akan mengingat hal itu." ujar Woon.
"Aku juga diam-diam menyembunyikan bulan disini." lanjut Hwon. "Ketika bulan di langit tidak ada, aku tetap bisa melihat bulan. Walaupun matahari dan bulan tidak bisa berada di langit pada saat yang sama, namun paling tidak mereka masih bisa bersama di dalam kolam itu."
Nok Young sedang berdoa di bukit. Mendadak Jan Shil datang dengan membawa surat.
Nok Young membaca surat tersebut. Surat itu berisikan perintah agar ia kembali.
Nok Young berjalan bersama tiga orang gadis di darmaga. Satu gadis adalah Jan Shil, satu orang lagi adalah gadis yang berpakaian seperti lelaki (Seol) dan yang satunya lagi adalah seorang gadis yang kepalanya tertutupi tudung.
"Kami harus pergi sekarang." ujar Nok Young.
Gadis bertudung membuka jubahnya... Bahkan melihat jenazah Yeon Woo saja ia tidak bisa
Bersambung.....

Sinopsis The Moon That Embraces The Sun episode 7

Sinopsis The Moon That Embraces The Sun episode 7
Daebak! ratingnya 29,7%, wow, kasian drama lainnya ya???
Setelah aku baca sinopsisnya dan aku buat seperti yang dibawah ini, sepertinya Wol memang ngga punya kekuatan Shaman. Hm....

Dua kakak adik Hwon-Myung sudah bertemu dengan Wol dan mereka merasakan perasaan yang sama saat melihat Wol.

Episode 7 : Who Are You?

Didermaga, Seul dan Yeon Woo (Aku panggil Wol aja ya, meskipun Yeon Woo sebenarnya belum punya nama) mengantarkan Shaman Jang dan Janshil. Shaman Jang mengatakan agar Wol segera kembali. Wol membuka penutup kepalanya sedikit dan berkata ia ingin ikut dengan Shaman Jang dan jangan menghentikannya yang ingin melihat kepergian Shaman jang. Shaman Jang menutupi wajah Wol lagi. Wol bertanya kenapa shaman Jang melakukan itu. Shaman Jang berkata, jika kebetulan saat dia pergi ada orang asing, maka Wol harus menghindari mereka. Wol bertanya apa ada tamu yang akan datang hari ini? Shaman Jang berkata tidak peduli apa, kau tak boleh memasukkan mereka ke hatimu. Kau tak harus berinteraksi dengan mereka. Apa kau mengerti? Jansil mengatakan kalau kapal mereka akan segera berangkat.

Yang Myung masih tertidur dalam kapal/perahu, ia kemudian bangun. Ia nertanya kenapa banyak sekali orang didermaga. Seorang laki-laki berkata kalau raja akan datang ke desa itu sehingga semua orang ada disitu untuk melihatnya. Laki-laki itu berkata Myung beruntung, datang ke desa tanpa mengetahui kalau raja akan datang. Yang Myung berfikir, Yeon Woo, kau membuat ku bertemu dengan Raja. Yang Myung melihat kesekelilinya, ia merinduka Yeon Woo.

Wol memberitahukan Shama Jang agar mendoakan hal baik bagi peramal. Shaman jang menyuruh seul untuk membawa Wol kembali ke rumah, Seul berkata, jika anda tak percaya padaku, maka kenapa anda tak membawaku pergi dan meninggalkan janshil untuk menemani Wol. Shama Jang berkata ia lebih khawatir kalau Jansil yang bersama Yeon Woo, makanya ia mengajak Jansil yang pergi, jadi Seil tak perlu iri.

Wol dan Seul berjalan pulang. Seul mengatakan pada Wol : Karena tak ada yang akan mengomel, bagaimana kalau kita membeli semangkuk sup sebelum pulang?
Seorang pria berkata kalau Raja akan datang sehingga mereka bisa melihatnya di tandu raja nanti. Wol kelihatan bersemangat, sementara seul berkata tidak.

Wol membuat wajah mengemis yang lucu agar Seul membiarkan ia melihat, tapi seul tetap menolak, Seul menyeret Wol pergi.
Myung juga mendengar pria itu berbicara. ia merebut selebaran pria itu. Orang itu berkata Raja sudah tiba.

Hwon berkata mereka sudah tiba didesa, sehingga ia menyuruh agar tirainya dibuka. Hyung Sun berkata cuacanya dingin, sehingga akan lebih baik tirainya tertutup. tapi Hwon tetap memerintahkan agar tirainya dibuka. Hyung Sun memerintahkan pembawa tandu untuk berhenti dan mengangkat tirai agar wajah Hwon kelihatan. Hwon memberi tahu Hyung Sun bahwa orang desa keluar untuk melihat wajahnya, bagaimana mungkin ia membuat mereka kecewa dengan menutupi wajahnya.

Hyung Sun tersenyum pada Hwon dan Hwon mengatakan sesuatu tentang ketulusan dan Hyung sun menutup mata menunggu kata-kata berikutnya. Hwon : Kau pukir mudah menemukan seorang raja sepertiku? Hyung Sun menyipitkan matanya dan mengerutkan wajah. Hwon tertawa geli. Hwon berkata apakah kita akan menghabiskan malam disini? Ayo kita pergi.

Orang-orang berbaris. Seul dan Wol juga. Seul mengingatkan Wol kalau mereka hanya melihat sebentar kemudian pergi. Wol berkata ia akan pergi nanti maka jangan bertindak seperti itu. Penjaga memeriksa orang-orang, kalau terlihat berpakaian rapi, ia membiarkannya dan mengusir orang yang terlihat terlalu miskin. Penjaga tidak membiarkan seorang ibu dan anak yang kelihatan terlalu miskin untuk melihat karena pakaian mereka berantakan dan tak terlihat baik didepan raja. Ibu berkata anaknya sangat ingin melihat raja, jadi ia minta membiarkannya melihat hanya sekali. Penjaga menolaknya dan mendorong mereka, ibu itu masih memohon. Wol membantu ibu itu berdiri dan mendekati penjaga. Wol berkata kalu penjaga itu terlalu keras. Wol : Kau bilang orang miskin tak berhak melihat raja? Dimana hukum seperti itu? Penjaga berkata apa yang kau lakukan. Wol berkata kalau kalau ia adalah penjaga roh dan menatap penjaga itu. penjaga berkata bagaimana Wol bisa menatapnya dengan mata seperti itu?

Penjaga marah dan akan memukul Wol, tapi Seul mencegahnya. Penjaga berkata seul terlihat seperti anak perempuan. Seul akan mengambil pedangnya tapi Wol menghentikan. Wol melihat pria itu dan mengatakan :Apakah aku harus mengatakan padamu kenapa istrimu meninggalkan rumah? Penjaga kaget. Wol : Itu karena kebiasaan memukulmu. setiap kali kau munim, kau akan memukulnya. jadi, dia tak punya pilihan lagi, dan dia menemukan orang lain. Orang lain betanya : bukankah kau bilang istrimu meninggalkan rumah karena membohongimu? Penjaga minta Wol diam. Wol tetap melanjutkan dan berkata agar penjaga berhenti minum alkohol karena sekarang perut penjaga itu sudah sakit. Ia harus berhenti minum karena kalau tidak umurnya tinggal setahun lagi. Penjaga marah. Penjaga lain menyuruh penjaga itu agar segera pergi karena kalau tidak itu akan menimbulkan masalah kalau penjaga itu memukul Wol.

Myung berjalan dan mengalihkan perhatian para penjaga untuk mengejarnya. Wol mengangkat tali pembatas dan memberitahukan semua orang untuk lewat.

Seul berkata tak seharusnya Wol bertindak seperti seorang Shaman, dan bagaimana Shaman Jang menyuruhnya untuk tak melakukanya lagi. Seul dan Wol berbicara mengenai media roh dan yang tak memiliki kemampuan (aku ngga ngerti, mian...). Seul berkata bagaimana bisa seseorang yang tak memiliki kemampuan bisa tahu kalau istri pria itu berselingkuh? (What??? Wol tak memiliki kemampuan?). Wol berkata itu hanya berdasarkan nalurinya. Ia mencium bau alkohol dari nafas orang itu dan mengatakan kalau itu artinya pria itu peminum berat. Dan biasanya ia akan memukul saat mabuk. Sel berkata : Hanya dari itu, kau harusnya tak tahu kalau istrinya meninggalkan rumah. Wol berjalan dan mengatakan spekulasinya (maaf, agak sulit menterjemahkannya). Seul terkagum dengan kemampuan menganalisa Wol.

Myung masih berlari, tapi ia tertangkap oleh penjaga. Myung memberitahu mereka untuk meletakkan senjata mereka. Tapi Myung diseret pergi. Wol melihatnya dan tersenyum. Myung memberitahu merekan agar menggunakan kata-kata, bukan kekerasan. Rombongan raja sampai, sehingga penjaga membiarkan myung pergi.

Semua orang membungkuk. Seul menarik Wol untuk membungkuk juga. Myung juga berlutut dan membungkuk. Hwon lewat. Hwon memperhatikan orang-orang yang menghormat padanya.

Wol memalingkan wajah dan mendongak karena ada kupu-kupu kuning disamping wajahnya terbang (wow,,, lagi2 kupu-kupu kuning membawa takdir mereka). Wol berdiri dan melihat kupu-kupu itu.

Yang Myung juga mendongak untuk melihat Hwon dan Woon, ia tersenyum. Myung melihat Wol berdiri, seul terus memanggilnya agar membungkuk lagi.

Wol masih berdiri dan ia menatap Hwon. Wol mulai menangis. Myung melihatnya. Hwon melihat kearah Wol, tapi Sel meraih tangan Wol dan mereka lari. Myung mengikuti mereka dan berlari juga seelah mereka.
Hwon bertanya apa yang terjadi. Hyung Sun menjelaskan ada seorang wanita muda yang tak menunduk. Hyung Sun mengatakan akan menutup tirai Hwon segera.

Seul dan Wol berpegangan tangan sambil melarikan diri. Wol ingat bagaimana Hwon meraih tangannya dan berlari ketika mereka pertama kali bertemu. Seul menyembunyikan Wol. semua penjaga termasuk Yang Myung melewati mereka.

Seul menegur Wol. Apa yang kau lakukan nona, bagaimana mungkin kau menatap Raja seperti itu dan tak membungkuk? Wol
memanggil seul dan bertanya apakan dia dan seul pernah lari dari seseorang seperti tadi. Seul berkata jika kita mengalami hal seperti ini dua kali, apa kau pikir kita masih hidup? Wol bertanya dalam kebingungan : lalu ingatan siapa ini???

Yang Myung mencari Wol kemana-mana. ia mengatakan ia melihatnya, tapi itu gadis lain. Myung berkata maaf padanya, Aku menemukan orang yang salah. Myung berkata pada dirinya sendiri, Apa yang kau harapkan. Bukankah anak itu sudah mati dan tidur dalam tanah? (Mungkin Myung melihat bayangan Yeon Woo dalam diti Wol, makanya ia minta maaf pada Yeon Woo karena menyangka gadis lain adalah YW).

Hwon sedang mandi dan ia membuat cipratan air. Hyung Sun bertanya mengapa Hwon melakukan itu, apa karena ia tak suka aromanya. Hwon bilang itu mengganggunya, Hyung Sun berfikir kalau Hwon tak suka ia banyak bicara, sehingga ia berbalik dan cemberut, Hwon berkata itu bukan kau. Hyung Sun tersenyum lagi. Hyung Sun bertanya apa yang Hwon tak suka? Hwon mengeluh tentang rakyat yang membungkuk padanya tadi, kebanyakan adalah orang dengan pakaian baik. Hyung Sun berkata itu menunjukkan sisi baik mereka. Hwon berkata aku datang setelah 5 tahun bukan untuk itu. Hyung Sun berkata Hwon hanya datang sehari dan ia menyarankan agar melupakannya. Hwon berkata ia akan merasa lebih baik setelah berendam dan ia bertanya pada Woon apa ia ingin ikut berendam. Pelayan wanita memalingkan wajah. Hyung Sun tersedak dan cepat mengantar semua pelayan keluar.

Hyung Sun bertanya bagaimana Hwon bisa bercanda seperti itu ketika ada rumor disekitar istana. Hwon tanya rumor apa? Hyung Sun : Kau menjauh dari ratu, dan membiarkan Woon disisimu sehingga mereka mengatakan bahwa kau..... Hyung sun kesulitan bicara kalau orang menganggap Hwon adalah Gay.Hwon mengerti maksud Hyung sun. Hyung sun minta agar Hwon tidak bercanda sepeti itu lagi dengan Woon.

Hwon bertanya pada Hyung Sun apa Hyung Sun ingin ikut berendam? Hyung Sun tiba-tiba merasa tak nyaman dan mengatakan ia akan memeriksa apakah semua sudah siap. Hyung Sun lari ketakutan. Hwon berkata pada Woon, akhirnya hanya kita berdua saja.

Hyung Sun mendengarkan dipintu dan bergumam kalau ia sudah mengenal Hwon sejak lama. Dia bertanya-tanya apa selera Hwon telah berubah (dari wanita menjadi pria) selama waktu itu? Apa alasannya mengapa hatiku berdetak cepat dan kakiku genetar? Hyung Sun mendengarkan lagi dari balik pintu. Yang Myung muncul dan bertanya mengapa Hyung Sun seperti anak anjing. Hyung Sun senang melihat Myung.

Hyung Sun memberi tahu Hwon kedatangan Myung, tapi tak ada jawaban dari dalam. Hyung Sun membuka pintu dan tak ada seorang pun disana. Hyung Sun berteriak 'Yang Mulia'.

Hwon dan Woon berjalan mengenakan pakaian bangsawan. Hwon mengerut ketika Woon bertanya kenapa ia melakukan ha itu. Hwon : Aku bisa mendengar Hyung Sun berteriak-teriak sepanjang jalan menuju ke sini.

Hwon dan Woon melewati perkampungan kumuh, Hwon berkata keadaan disana jauh berbeda dari jalan yang mereka ambil. Orang mengemis dan mengigil kedinginan. Seorang anak menabrak Hwon dan minta maaf. Hwon membantu anak itu dan bertanya kenapa ia terburu-buru. Anak itu berkata kakaknya sendirian dirumah jadi dia membawa ini (beberapa sayuran busuk).

Hwon bertanya apa anak itu tak punya orang tua. Anak itu berkata ibunya meninggal karena sakit dan satu tahun sebelumnya ayahnya masuk penjara. Hwon bertanya dimana ayahnya ditangkap dan apakah itu benar. Anak itu mengangguk. Hwon memberinya uang dan bertanya nama ayah anak itu. Anak itu berkata semua orang didesanya tahu ayahnya. Hwon berjanji kalau ia akan menemuka ayah anak itu dan membawanya pulang. Anak itu sedikit tak yakin. Hwon berkata anak ini tak percaya padaku? aku seseorang dari posisi yang tinggi. Anak itu mengucapkan terimakasih. Woon mengatakan ada seseorang yang mengawasi mereka (salah satu anak buah menteri Yoon). Hwon berkata mari bermain dengannya, dan mereka pun lari.

Mereka berlari ke hutan dan laki-laki itu kehilangan mereka. Hwon tertawa. Woon menyerankan agar mereka segera kembali. Hwon setuju.

Hwon mendongak dan mengatakan 'Yeon Woo akan turun', yang berarti bahwa hujan kabut yang lembut akan turun.

Hwon melihat keatas dan membayangkan Yeon Woo. Hwon mengejarnya.

Shaman Jang bertemu dengan Shaman (ahli nujum?) kerajaan yang membantu mereka sebelumnya. Jansil sedang tertidur dipojok. Dia mengatakan takdir mereka, mereka akan bertemu lagi, bagaimanapun caranya. Shaman Jang bertanya apakah maksudnya raja? Pria itu berkata mengenai raja yang keadaannya tak baik. Karena orang yang seharusnya melindungi Raja hidup ditempat lain. Shaman jang bertanya apa maksud pria itu dua orang itu akan berada bersama lagi? Pria itu berkata itu bukan untuk manusia yang melakukannya, tapi langit yang harus melakukannya. Shaman Jang tahu benar itu, dan ia mengatakan kehidupan sudah diipotong sekali. Pria itu berkata kau tak bisa memotong kerinduan (maksudnya, takdir mengatakan Wol dan Hwon akan bersama lagi, bagaimana pun caranya, karena matahari harus selalu dekat dengan bulan agar Hwon sehat. jadi, Wol harus dekat dengan Hwon. Shaman jang sudah memutuskan hidup Wol sekali, tapi tak ada yang bisa memutuskan kerinduan Hwon akan Yeon Woo / Wol). Shaman jang berkata Yeon Woo hilang ingatan dan tak ada kerinduan dalam hatinya. Pria itu berkata ingatan Yeon Woo perlahan akan kembali. Shaman Jang berkata Yeon Woo akan ada dalam bahaya. dan Shaman jang berkata Yeon Woo tak akan bisa menghadapi bahaya itu untuk kedua kalinya (Sepertinya pria itu minta Yeon Woo kembali demi kesehatan Hwon).

Wol dan Seul duduk di rumah. Seul tanya apa yang difikirkan Wol. Wol : Aku tahu. Seul tanya ada apa. Wol : Aku tahu siapa yang aku ingat beberapa waktu lalu. Itu adalah orang itu. Seul tanga apa? Wol : Aku ingat kenangan akan orang itu dan kesedihan. Apakah kau tak tahu? Sekarang aku memiliki kemampuan psikis juga. Seul khawatir Wol akan mengingat masa lalunya tapi ia bernafas lega saat Wol mengatakan sekarang ia sudah menjadi shaman. Seul mulai mengatakan kalau kau tak harus mempunyai kemampuan psikis, tapi Wol berdiri. Sel tanya kemana Wol akan pergi. Wol mengatakan Shaman jang terlambat, dan ia ingin keluar menunggunya. Seul mengajaknya pergi bersama-sama.

Hwon dan Woon berjalan dalam kabut yang gelap. Hwon mengatakan mereka tersesat, karena dari tadi mereka hanya berjalan berputar-putar. Woon minta maaf, dan Hwon mengatakan tak ada alasan untuk minta maaf karena ini adalah kesalahnnya.

Hwon melihat cahaya dari kejauhan dan kagum : Bukankah itu bulan? Tiba-tiba ia melihat imajinasi Yeon Woo yang berkata : Aku menunggumu.Mengapa kau baru datang sekarang? Yeon Woo tersenyum padanya.

Hwon melihat lagi, dan kini Wol berdiri dihadapannya dengan lentera.

Wol sedang membuat teh. Seul bertanya apa Wol tahu siapa mereka? Wol berkata mereka sedang menyamar dan minta seul agar berakting pura-pura tak tahu siapa mereka. Seul berkata kau tahu dia adalah anggota kerajaan dan bawa ia pulang. Wol berkata jadi ia harus mengabaikan orang asing yang tersesat? Seul berkata Shaman jang sudah mengatakan klau wol harus menghindari orang asing. Wol mengatakan kalau shaman jang tidak mengatakan melarangnya membantu mereka yang membutuhkan bantuannya.

Hwon dan Woon sedang menunggu dan wol membawakan mereka teh. Hwon menatap wajah Wol. Wol mengatakan teh hangat akan membantu mereka. wol mengatakan ia tak bisa menyiapkan banyak hal untuk mereka dan mengatakan agar mereka beristirahat dengan nyaman sebelum pergi. Hwon bertanya siapa pemilik sebenarnya meja itu. Dalam hujan, siapa yang kau tunggu? kau menunggu seseorang? Wol mengatakan dia sedang menunggu ibu angkatnya yang belum pulang. Wol : Jika kau tak memiliki pertanyaan lagi...
Tiba-tiba Hwon bertanya : Kau mengatakan kalau kau adalah seorang perantara roh? Wol menjawab 'iya'.

Hwon melihat sekelilingnya dipenuhi tumpukan buku dan bertanya mengapa ruangan tempat perantara roh seperti itu, atau kau punya hoby yang tak biasa - apakah semua buku ini milikmu?
Wol mengatakan itu miliknya dan ia memberi alasan kenapa ia membaca buku, alasan yang mengingatkan Hwon pada Yeon Woo saat mereka pertama bertemu.

Hwon berkata pada dirinya sendiri -ini tak mungkin- anak itu sidah mati dan tak mungkin hidup kembali- dia hanya seorang gadis yang terlihat sama sepertinya (YW). Wol bertanya kenapa Hwon seperti itu. Hwon mengatakan pada dirinya sendiri : Ini adalah mimpi. Kau salah. Aku di hantui oleh Roh.

Hwon cepat minum. Dia mengatakan pada Woon agar minum juga karena Won juga basah terkena hujan tadi. Wol mengatakan kalau Woon tak tahu siapa dia atau apa minuman ini, dan kau menolak minum? apakah kau menjaga yang mulia hanya dengan pedang saja? (seharusnya Woon sebagai pengawal raja harus minum terlebih dahulu untuk memastikan minumannya aman, dan Wol mengatakan Woon tak melakukan tugasnya dengan baik),

Hwon dengan cepat menarik tangan Wol : bagaimana kau tahu?
Wol : Apa yang anda bicarakan?
Hwon : Bahwa aku adalah raja, bagaimana kau bisa tahu?

Yang Myung tinggal ditempat yang sama dengan tempat dimana Hwon akan menginap. Myung berfikir dalam hati pada Yeon Woo : Apakah kau ingin bertemu dengan raja? Bahkan jika kau tak datang untuk bertemu dengaku, maka itu akan baik melihatmu lagi. Dikehidupan berikutnya, tolong lihat aku saja...

Hwon bertanya : Apakah kau pernah bertemu denganku beberapa waktu lalu? Wol mengatakan bagaimanapun dia hanya media roh, sehingga ia tak punya kesempatan bertemu dengan hwon. Hwon menuduh Wol berbohong. Wol berkata bagaimana mungkin ia bisa berbohong pada Hwon. Hwon bertanya bagaimana wol bisa tahu kalau ia adalah raja. Hwon melepaskan tangan Wol. Hwon terlihat menjauh. Hwon berkata pada Woon : hujan berhenti. ayo kita kembali sekarang (apa Hwon takut ya?).

Hwon melangkah keluar dengan Woon. Hwon melihat kebelakang dan menanyakan nama Wol. Dari dalam rumah Wol mengatakan ia tak memiliki nama. Hwon bertanya bagaimana Wol tak memiliki nama. Wol mengatakan ibu angkatnya tak mau terikat dengannya dengan memberikan nama. Orang memanggilnya Ahgi saja.

Hwon mendongak menatap bulan : Aku menamakanmu Wol. Wol mengulangi namanya. Wol mengatakan keras-keras pada dirinya sendiri : apa kau dengar? Sekarang aku punya nama. Hwon berjalan pergi dengan Woon.

Ketika mereka kembali, Hyung Sun datang dan mengatakan bagaimana Hwon bisa melakukan itu, apa Hwon ingin Hyung Sung mati. Hwon berkata aku tak ingin kau mati. Hwon berkata Woon menjaganya dengan baik, itu sebabnya ia kembali dengan selamat.

Yang myung datang dan bertanya apakah Hwon baik-baik saja lalu ia memberi salam. Hwon bertanya kenapa Myung datang.Muncul setelah bertahun-tahun, apakah kau datang untuk memperlihatkan wajahmy? Myung mendongak. Hwon : kau tampan seperti biasa. Hwon tersenyum. Myung dan Woon juga. begitu juga dengan Hyung Sun.

Hwon menuangkan minuman untuk Myung dan hwon minum. Hwon minta Woon untuk datang dan minum bersama, tapi Woon tak bergerak dari tempatnya dan mengatakan ia sedang bertugas.

Myung memberitahukan Hwon untuk menyerah karena Woon tidak minum saat bertugas. Hwon berkata apa Myung ingin bertaruh dengannya siapa yang bisa membuat Woon minum.Myung berkata pada Woon : Tidakkah kau mendengar itu? lebih baik kau datang kesini dan duduk. Myung menawarkan uang suap dengan memberikan sesuatu yang berharga. Woon hanya menatap dan bergumama. Hwon meminta Woon untuk datang dan minum. "Ini perintah".

Woon datang dan minum. Myung tertawa. Hwon : Hyungnim. Myung berkata aku akan melakukan apapun yang kau minta. Hwon bertanya apakah Myung masih memikirkan Yeon Woo. Myung : yang mulia. Hwon : bukankah kau kalah bertaruh? Jadi kau ingin kau menjawabnya sekarang (Oia, di episode 6 waktu mereka bertengkar, Hwon baru tahu kalau kakaknya Myung juga menyukai Yeon Woo, sebelum itu ia tak tahu..).
Myung : Bukankah orang yang ada dalam hatiku sudah mati? Ketika aku mengatakan aku harus melupakannya, aku merindukannya. ketika aku merindukannya, aku tak ingin melupakannya atau merindukannya, tapi sekali aku berfikir bahwa dia tak ada di dunia ini lagi, aku meninggalkannya dalam hatiku. Hwon mengulang : Dia sudah tak ada di dunia ini lagi, aku meninggalkannya dalam hatiku. Mereka berdua tampak sedih.


Kembali ke istana, disana ada pertemuan para mentri. Hwon membicarakan sesuatu yang tak adil dan para mentri membela diri. Hwon mengatakan ia tak setuju untuk membuat warga menderita. Hwon memberikan perintah bahwa ia akan mengurusnya sendiri dan mencari tahu siapa yang bertanggung jawab.

Seorang Shaman (yang berbohong di Ep 1) bertemu dengan Menteri Yoon diam-diam. Mentri Yoon bertanya sudah berapa tahun sejak dia kembali ke istana. Dia berkata 8 tahun. Yoon berkata ia akan mendapatkan posisi sebagai shaman kerajaan apabila shaman itu mendengarkan perintahnya. Dia menyetujuinya. Yoon bertanya apakah dia tahu mengenai kondisi kesehatan Hwon. Dia mengatakan dia mendengar kalau Hwon sehat, tapi sebenarnya tidak. Yoon : Itulah mengapa hal ini mengkahwatirkan. Ketika ia harus sehat, ia sakit, ketika ia harus sakit, ia sehat. Shaman itu berkata selama Hwon pergi dia memberi mantra, sehingga setiap kali Yoon memberi perintah, Yoon akan melihat hasilnya (?).

Hwon duduk sendiri dan berfikir tentang melihat Yeon Woo membawa lentera dan mengingat kata-katanya. Hyung Sun datang dan mengatakan Ratu ingin melihat Hwon. Hwon mengatakan apa Hyung Sun lupa apa yang ia katakan, jangan membiarkan siapapun masuk. Hyung Sun berlutut dan memohon. Pengawal yang lain juga memohon hingga Hwon akhirnya membiarkan Ratu masuk.
Bo Kyung masuk dan bertanya apakah hwon baik-baik saja selama perjalanannya. Hwon berkata seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Hwon bertanya apa yang membawa Bo Kyung datang larut malam. Hyung Sun meninggalkan mereka.

Hwon : Apa yang kau katakan?
Bokyung mengatakan bahwa Hwon bisa mengambil selir kerajaan. Bo Kyung mengingatkan Hwon kalau Hwon ingin menjadi Raja yang kuat, maka ia perlu memiliki ahli waris. Bo Kyung mengatakan ia tak memiliki alasan lagi untuk nenek. tidak masalah jika bukan dia, Hwon memerlukan ahli waris. Hwon bertanya apa maksudnya. Bo Kyung mengatakan sebagai ratu saya tak mungkin mendahulukan perasaan pribadi. Hwon membuat suaranya seperti orang simpati, ia mengatakan kini ia tahu kenapa Bo Kyung menerima banyak perhatian. Bagaimana ia tak tahu hati bo kyung. betapa sulitnya ini untuknya sehingga ia mengabaikan bo kyung. Hwon mengatakan ia akan melakukan saran bo kyung. Bo Kyung terlihat kesal. Hwon memberitahu ia tak suka apa yang dilakukan Bo Kyung seperti apa yang ia kakatakn sekarang. Hwon : kalau kau sudah selesai dengan apa yang ingin kau katakan, kembali dan istirahatlah.

Bo Kyung berbalik untuk pergi dan saat ia dipintu ia mengatakan berapa lama lagi Hwon sepeti itu (perasaan Hwon pada Yeon Woo).
Bo Kyung: Bagaimana mungkin posisiku diambil oleh anak yang sudah mati. Di matamu, kau tak bisa melihat ketulusanku? berapa lama lagi, berapa lama lagi aku harus bersaing dengan anak yang sudah mati itu? Bo Kyung akhirnya pergi. Selama Bo Kyung bicara tadi, Hwon merasa hatinya sakit. Dia berjalan dan minta bantuan. Hyung sun masuk dan meminta pelayan memanggil tabib.
Shaman menempatkan / meletakkan mantra (stiker kuning) pada Hwon malam itu, karena stiker kuning itu sudah ada dibawah pilar istana untuk sementara waktu.

nenek sedang berbicara dengan ibu Hwon. nenek ingin membawa Shaman Jang kembali.

Hwon memerintahkan woon untuk menemukan gadis itu (Wol), sorot matanya telah membebani hatiku. Hwon berkata kalau gadis itu terlihat seperti menyembunyikan sesuatu darinya dan ia yakin itu. Hwon : aku harus bertemu dengannya dan memastikannya lagi (Hwon ingin memastikan lagi kalai Wol bukan Yeon Woo). Kau bilang kau tak pernah melihat anak itu sebelumnya? mereka terlihat sama, jika dia masih hidup, maka dia akan terlihat seperti itu.

Woon memacu kudanya menuju rumah Wol. Tapi Wol sudah pergi.

Min Hwa sedang memperhatikan cermin dan mengeluh dengan wajahnya yang tampak bengkak karena begadang semalaman. Dia berteriak pada dayangnya : Apa yang terjadi dengan mataku? Dayang berkata tentu itu akan terjadi karena Min Hwa tak istirahat semalaman. Min Hwa : apa yang kau lakukan sementara mataku jadi seperti ini? Dayang berkata ia mencoba menghentikan putri tapi putri tak mendengarkannya. Min Hwa berkata harusnya ia dihentikan. Dayang mengatakan aku telah melakukan dosa dan aku layak mati. Ia mencoba mengambil cermin min hwa tapi min hwa tak mau melepaskannya.

Min Hwa : Semua berakhir sekarang. Jika dia melihat wajah ini, dia mungkin akan membenciku kan? tidak menyukai ku? mungkin ia akan meninggalkanku? menendangku keluar? Aku mungkin akan mati. Aku tak bisa mendapat cinta dari orang yang aku cintai dan tak dapat menggendong bayi yang mirip suamiku sekali saja.... karena dia tidak akan memaafkanku...
Ibu Yeom datang datang dan bertanya mengapa min hwa seperti itu. Min Hwa cegukan karena menangis.

Ibu Yeom bertanya pada puteranya bagaimana ia bisa melupakan malam itu (untuk tidur dengan Min Hwa, well, min hwa nunggu semalaman donk!). Ibu mengingatkan Yeom, min hwa hanya berfikir tentangnya. Yeom mengatakan ia menyesal karena ia membaca sepanjang malam dan lupa. Ibunya mengatakan Yeom seperti almarhum ayahnya (Oh no!!! Menteri Heo....). Ibu bertanya lagi apakah Yeom menghindarinya dengan sengaja? Yeom menjawab tidak. Ibu : Lalu kenapa kau terus membuat putri kesepian? Yeom memberi 2 alasan, karena putri masih terlalu muda dan ini sudah lama sejak ayah meninggal. Ibunya mengatakan min hwa sudah cukup umur untuk memiliki anak. Yeom bersikeras kalau Min Hwa masih muda. Ibu mengatakan Min Hwa sudah dewasa dan yeom harus memikirkan Min Hwa sebagai isterinya. Ibu Yeom mengatakan berapa banyak yang telah dilakukan Min Hwa untuk keluarga mereka. Dia mengingatkan apa yang ayah katakan, agar tidak melupakan apa yang dilakukan Min Hwa untuk mereka. Yeom berkata jangan khawatir.

Wol mengatakan pada Shaman jang bahwa ia tak bisa menemukan Seul sejak pagi, jadi ia akan mencarinya. Shaman jang mengatakan sudah jelas kemana Seul Pergi. Seul akan datang dan kembali bila saatnya tiba, jangan khawatir, dan ia menyuruh Wol untuk masuk kembali. Shaman Jang menyuruh Jan sil membawa Wol masuk. Beberapa pria datang memanggil Shaman Jang, Shaman jang memanggil jan sil. Jan shil lalu membawa wol kembali kedalam. Salah satu pria melihat wajah Wol. Shaman Jang membawa mereka keruangan lain.

Pria itu berkata betapa sulitnya menemukan Shaman jang. Shaman jang bertanya mengapa mereka mencarinya. Salah satu dari mereka mengatakan itu perintan Nenek. Pria itu mengatakan Shaman istana saat ini tidak bisa melakukan dengan baik, jadi mereka ingin Jang kembali ke istana. Shaman Jang mengatakan keahliannya sudah ada dalam batu. Yang lain mengatakan mereka membutuhkan bantuannya. Dan nenek meminta mereka untuk membawa Jang apapun yang terjadi. Shaman jang berkata tak peduli bagaimana mereka meminta, ia sudah berhenti dan ingin istirahat. Salah satu dari mereka bertanya apakah anak diruangan sebelah itu adalah anak angkat Jang yang menjadi Shaman beberapa waktu lalu. Jang mengatakan ia akan bicara sendiri pada nenek dan minta mereka meninggalkannya untuk hari ini.

Para pria berjalan keluar dan mengatakan betapa keras kepalanyan Shaman jang. Mereka khawatir karena tak bisa membawa jang kembali, mereka Khawatir nenek marah. Pria itu memanggil anak buahnya.

Wol mencoba mencari Seul di tempat pandai besi dan ternyata Seul tak disana. Dia mencoba menggunakan kekuatan bathinnya dan kemampuannya menghilang. Ia ingat bagaimana Hwon bertanya apakah mereka pernah bertemu sebelumnya. Beberapa pria datang. Wol bertanya siapa kalian? Mereka memasukkan Wol dalam karung dan menyeretnya pergi.

Yeon Woo tertangkap dan terkunci dalam tandu. Dia ingat saai ia ada dalam peti mati dan dikubur dibawah tanah. Dia kesulitan bernafas. Wol bertanya : Ingatan apa ini???
 Bersambung.....



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar